JUDUL  : MENINGKATKAN HASIL BELAJAR SISWA MELALUI MODEL PEMBELAJARAN DISCOVERY LEARNING PADA MATA PELAJARAN PENDIDIKAN AGAMA KRISTEN DAN BUDI  PEKERTI DI  KELAS III SD NEGERI 01 NABIRE SEMESTER GANJIL TAHUN PELAJARAN 2020/2021

 

Peneliti    : Kusniawati

 

I.            PENDAHULUAN

A.    Latar Belakang Masalah

Pendidikan merupakan bagian yang penting dalam kehidupan manusia. Seiring dengan perkembangan zaman dan pertumbuhan manusia sebagai subjek dan objek pendidikan adalah manusia yang mempunyai potensi untuk berkembang kearah yang lebih maju dari sebelumnya, oleh sebab itulah mengapa pendidikan bertujuan mencapai kedewasaan baik jasmani maupun rohani.

Bagi suatu bangsa, pendidikan merupakan cermin dari sebuah kemajuan. Hal ini tergantung kepada sistem dan kualitas pendidikannya. Oleh karena itu Pemerintah Indonesia telah mengatur dan merumuskan tujuan pendidikan nasional sebagai pedoman bagi pelaksanaan pendidikan yang termaktub dalam UU RI No. 20 Tahun 2003 tentang sistem pendidikan nasional, yaitu[1] :

Pendidikan nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangasa, bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri dan menjadi warga negara yang berdemokratis serta bertanggung jawab.

Dengan demikian dapatlah diketahui bahwa tujuan pendidikan nasional sangat luas sekali, dan meliputi berbagai aspek yang menuntut peran serta semua pihak secara aktif dan bertanggung jawab dalam bidang pendidikan ini, karena tanpa ikut sertanya pihak lain yang bertanggung jawab dalam dunia pendidikan ini maka tujuan pendidikan diatas tidaklah tercapai dengan baik dan seperti yang diharapkan.

Pendidikan mempunyai peranan yang sangat penting untuk perkembangan serta kelangsungan kehidupan suatu bangsa yang bersangkutan. Seperti diketahui kunci ilmu pengetahuan itu ialah baca tulis, sehingga kita disuruh untuk belajar dan belajar. Karena dengan belajarlah kemajuan suatu bangsa dapat dicapai.

Mengingat pentingnya masalah belajar tersebut, maka dalam pencapaian materi pembelajaran harus disampaikan dengan metode dan pendekatan yang tepat. Dalam proses pendidikan Agama Kristen faktor model pembelajaran merupakan faktor yang tidak boleh diabaikan karena turut menentukan sukses tidaknya pencapaian tujuan pendidikan Agama Kristen. Hubungan antara model pembelajaran dan tujuan pendidikan dapat dikatakan merupakan hubungan sebab akibat. Artinya jika metode pendidikan yang digunakan baik dan tepat, maka tujuan pendidikan besar kemungkinan akan dapat dicapai.

Idealnya untuk mencapai tujuan pendidikan dan pengajaran kepada peserta didik haruslah dengan cara didaktis metodis. Artinya haruslah dengan cara yang tepat, bijaksana dan tidak boleh kasar agar tujuan yang telah ditentukan dapat dicapai. Demikianlah dalam mendidik guru sebaiknya selalu memperhatikan masalah metode ini. Salah satu sebab keberhasilan bahwa dalam mengemban misi pendidikan adalah sikap yang didaktis.

Seperti halnya permasalahan yang dihadapi siswa kelas III SD Negeri 01 Nabire; 73.5% dari 8 siswa mengalami kesulitan dalam meningkatkan hasil belajar Pendidikan Agama Kristen. Hal ini dapat dilihat dari hasil rata-rata ulangan siswa hanya 63 dan masih termasuk kategori rendah atau belum mencapai ketuntasan yang diharapkan. Ketuntasan belajar individual yang harus dicapai oleh siswa adalah minimal 70% dan ketuntasan belajar klasikal minimal 80%. Penyebab rendahnya nilai siswa tidak hanya siswa melainkan mungkin tingkat kemampuan guru dalam menyampaikan materi bisa terjadi. Guru perlu menyadari bahwa kecepatan siswa dalam berfikir itu bervariasi. Kemungkinan juga adanya alat atau media pendukung pembelajaran.

Melihat kondisi pembelajaran Pendidikan Agama Kristen dan Budi Pekerti yang demikian itu, penulis merasa perlu untuk melakukan perbaikan pada pembelajaran yang dilakukan. Salah satu upaya yang dilakukan adalah dengan menerapkan model pembelajaran yang agak berbeda dari sebelumnya. Dalam kesempatan ini, penulis mencoba menerapkankan sebuah model pembelajaran yang termasuk jenis pembelajaran kooperatif, yaitu Model Discovery Learning. Dengan menerapkan model ini dalam pembelajaran Pendidikan Agama Kristen di Kelas III SD Negeri 01 Nabire diharapkan mampu meningkatkan hasil belajar siswa pada mata pelajaran tersebut.

Pemilihan kelas penelitian pada Kelas III didasari pada observasi awal yang dilakukan penulis, dimana nilai prestasi siswa sudah berkisar antara 60-70 walaupun hanya dengan menggunakan metode ceramah dan tanya jawab, tetapi ini bukanlah nilai yang memuaskan. Maka penulis dalam hal ini mencoba dengan model pembelajaran Discovery Learning. Disamping itu pada sekolah tersebut belum pernah ada penelitian dengan menggunakan model pembelajaran Discovery khususnya pada mata pelajaran PAK. Inilah yang membuat peneliti merasa tertarik untuk melakukan penelitian dengan menggunakan model pembelajaran Discovery tersebut dalam mata pelajaran PAK di kelas III SD Negeri 01 Nabire.

 Apakah dengan menggunakan model pembelajaran Discovery Learning dapat meningkatkan hasil belajar siswa . Untuk menjawab itu perlu pengujian dengan menerapkan secara langsung model pembelajaran Discovery Learning melalui proses pembelajaran di kelas III SD Negeri 01 Nabire melalui penelitian Tindakan Kelas yang akan dilakukan oleh guru Pendidikan Agama Kristen yang juga akan bertindak sebagai peneliti.

Berdasarkan uraian diatas, peneliti tertarik untuk mengadakan penelitian dengan judul  :  MENINGKATKAN HASIL BELAJAR SISWA MELALUI MODEL PEMBELAJARAN DISCOVERY LEARNING PADA MATA PELAJARAN PENDIDIKAN AGAMA KRISTEN  DAN BUDI PEKERTI DI KELAS III SD NEGERI 01 NABIRE SEMESTER GANJIL TAHUN PELAJARAN 2020/2021”

B.     Perumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang masalah di atas, maka penelitian dapat merumuskan masalah penelitian ini adalah sebagai berikut :

“Apakah dengan melalui model pembelajaran Discovery Learning dapat meningkatkan kualitas pembelajaran Pendidikan Agama Kristen dan Budi pekerti melalui pembelajaran Discovery Learning pada kelas III SD Negeri 01 Nabire dan untuk mengetahui tingkah laku yang menyertai peningkatan pembelajaran Pendidikan Agama Kristen melalui pembelajaran Discovery Learning pada kelas III SD Negeri 01 Nabire.?

C.    Tujuan Penelitian

Berdasarkan rumusan masalah, maka tujuan yang ingin dicapai peneliti ini adalah:

Untuk meningkatkan kualitas pembelajaran Pendidikan Agama Kristen dan Budi pekerti melalui pembelajaran Discovery Learning pada kelas III SD Negeri 01 Nabire dan untuk mengetahui tingkah laku yang menyertai peningkatan pembelajaran Pendidikan Agama Kristen melalui pembelajaran Discovery Learning pada kelas III SD Negeri 01 Nabire.”

D.    Manfaat Penelitian

Hasil dari penelitian ini diharapkan akan dapat memberikan manfaat, yaitu :

1.      Manfaat Teoritis

Hasil penelitian ini diharapkan memberikan manfaat dalam pengembangan ilmu pendidikan, khususnya teori belajar mengajar serta konsep pembelajaran Pendidikan Agama Kristen dan Budi Pekerti di SD Negeri 01 Nabire.

2.      Manfaat Praktis

a.       Bagi guru, dengan secara bertahap guru mengetahui pola dan strategi pembelajaran yang tepat dalam upaya memperbaiki pengajaran. Salah satunya adalah dengan menggunakan model pembelajaran Discovery Learning.

b.      Bagi siswa, dengan menggunakan model pembelajaran Discovery Learning dapat meningkatkan pemahaman siswa, yang berarti meningkatkan hasil belajar siswa.

c.       Bagi sekolah, hasil penelitian ini akan memberikan kontribusi terhadap perbaikan pembelajaran pendidikan agama Kristen khususnya di kelas III SD Negeri 01 Nabire.

d.      Untuk penelitian selanjutnya, hasil penelitian ini dapat dijadikan sebagai bahan masukan untuk penelitian berikutnya.

 

II.            KAJIAN  PUSTAKA

A.    Pengertian Belajar

Belajar merupakan kebutuhan yang harus dipenuhi oleh setiap manusia. Belajar adalah kegiatan beproses dan merupakan unsur yang penting dalam penyelenggaraan pendidikan. Sedangkan keberhasilan pencapaian tujuan pendidikan sangat tergantung pada keberhasilan proses belajar siswa di sekolah dan di lingkungan sekitarnya.[2]

Belajar memiliki beberapa definisi dan teori yang dikemukakan oleh beberapa ahli pendidikan. Menurut Syah yang dikutif oleh Asep Jihad mengatakan bahwa belajar merupakan tahapan perubahan perilaku siswa yang relatif positif dan mantap sebagai hasil interaksi dengan lingkungan yang melibatkan proses kognitif. Tahapan dalam belajar tergantung pada fase-fase belajar. Menurut Witting ada tiga tahapan dalam belajar, antara lain:

1.        Tahapan Acquisition, yaitu tahapan perolehan informasi

2.        Tahapan Storage, yaitu tahapan menyimpan informasi; dan

3.        Tahapan Retrieval, yaitu tahapan pendekatan kembali informasi.

       Menurut Oemar Hamalik yang dikutif oleh Asep Jihad ada dua pengertian yang umum tentang belajar yaitu[3]:

1.      Belajar adalah modifikasi atau memperteguh kelakuan melalui pengalaman (Learning is difined as the modification or streng hening of behavior through experiencing).

2.      Belajar adalah suatu proses perubahan tingkah laku individu melalui interaksi dengan lingkungan.

Karena itu seseorang dikatakan belajar, bila dalam diri orang itu terjadi suatu proses kegiatan yang mengakibatkan suatu perubahan tingkah laku. Jadi dalam teori ini siswa belajar akan mendapatkan hasil belajar yaitu berupa perubahan kepribadian sebagai pola baru, misalnya pemahaman atau pengetahuan yang didapat dari proses pembelajaran.

Belajar berlangsung sepanjang hayat, karena belajar merupakan kebutuhan setiap manusia. Prinsip belajar sepanjang hayat yang dibuat oleh Komisi Delors dari United Nations Educational Scientific and Cultural Organization (UNESCO) terbagi 4 pilar, yaitu : (a) learning to know, yang berarti juga learning to learn; (b) learning to do; (c) learning to be; dan (d) learning to live together.

1.        Learning to Know

Learning to know atau learning to learn memiliki definisi bahwa belajar itu pada dasarnya tidak berorientasi kepada produk atau hasil. Akan tetapi juga harus berorientasi kepada proses belajar.

2.        Learning to Do

Learning to do mengandung pengertian bahwa belajar bukan hanya sekedar mendengar dan melihat dengan tujuan akumulasi pengetahuan, tetapi belajar untuk berbuat dengan tujuan akhir penguasaan kompetensi yang sangat diperlukan dalam era persaingan global.

3.        Learning to Be

Learning to be berarti belajar itu membentuk manusia yang “menjadi dirinya sendiri”. Dengan kata lain, belajar untuk mengaktualisasikan dirinya sendiri sebagai individu dengan kepribadian yang memiliki tanggung jawab. Sebagai manusia dan juga memiliki tanggung jawab  menyadari akan segala kekurangan dan kelemahannya.

4.             Learning to Live Together

Learning to live together adalah belajar untuk kerjasama. Hal ini diperlukan sesuai dengan tuntutan kebutuhan dalam masyarakat global, dimana secara individu dan kelompok tidak mungkin bisa hidup sendiri atau mengasingkan diri bersama kelompoknya.

Dari segi psikologi, menurut Whitetherington psikologi yang dikutip oleh Ngalim Purwanto, mengemukakan :

“Belajar adalah suatu perubahan tindakan di dalam, kepribadian yang menyatakan diri sebagai pola baru dari pada reaksi yang berupa kecakapan sikap kebiasaan, kepandaian atau suatu pengertian”.

Dalam proses belajar terdapat beberapa hal yang penting yaitu pengalaman, proses berpikir, dan perubahan tingkah laku. Pada proses belajar, siswa merupakan subyek sedangkan guru diharapkan sebagai fasilitator dan pembimbing. Agar terjadi proses belajar yang baik, dituntut adanya suatu Interaksi Multi Arah antara siswa dan guru. Setiap individu berperan aktif melibatkan diri dengan segala pemikiran dan kemauan untuk berinteraksi dengan lingkungannya.

Berdasarkan pengertian-pengertian diatas dapat disimpulkan belajar adalah suatu aktifitas mental yang berlangsung dalam interaksi aktif dengan lingkungan yang menghasilkan perubahan-perubahan dalam pengetahuan, pemahaman, keterampilan dan sikap. Setiap pembelajaran bermuara pada suatu hasil, sesuai dengan tujuan pembelajaran. Hasil yang didapat dari sekolah harus dapat digunakan dan diterapkan dalam kehidupan sehari-hari. Hasil belajar yang telah diperoleh disimpan dalam ingatan untuk kemudian digali dari ingatan bila dibutuhkan. Suatu pembelajaran dikatakan efektif bila proses pembelajaran tersebut dapat mewujudkan sasaran atau hasil belajar tertentu. Beraneka ragam tingkah laku yang diperoleh dalam belajar yaitu pengetahuan, sikap, dan keterampilan.

Berbagai ahli mengemukakan pendapatnya tentang belajar. Belajar adalah suatu proses yang dilakukan individu untuk memperoleh suatu perubahan tingkah laku yang baru secara keseluruhan sebagai hasil pengalaman individu itu sendiri dalam berinteraksi dengan lingkungan (Slameto, 1998:6)[4]

Belajar adalah segenap rangkaian kegiatan/aktifitas yang dilakukan secara sadar oleh seseorang dan mengakibatkan perubahan dalam dirinya berupa penambahan pengetahuan atau kemahiran yang sifaknya sedikit banyak permanen (The Liang Gie, 2000 : 6).[5]

Menurut Nasution (2000:29) bahwa: “Belajar adalah perubahan kelakuan berkat pengalaman dan latihan. Belajar membawa perubahan individu yang belajar dan perubahan itu tidak hanya mengenai jumlah pengetahuan melainkan juga berbentuk kecakapan, kebiasaan atau pribadi seseorang”.[6]

Secara sederhana didefinisikan bahwa “Belajar ialah aktifitas yang dilakukan individu secara sadar untuk mendapatkan sejumlah kesan dari apa yang telah dipelajari dan sebagai hasil dari intyeraksinya dengan lingkungan sekitar dan perubahan yang terjadi relative permanen pada aspek psikologis” (Syaiful Bahri Djamarah, 2002:2).[7]

Menurut Winkel (2001:36) bahwa: “ belajar adalah suatu aktifitas mental atau psikis yang berlangsung, yang menghasilkan perubahan-perubahan dalam pengetahuan, pemahaman, keterampilan dan nilai sikap. Perubahan itu bersifat relative konstan dan membekas”.

Dari beberapa pendapat tersebtut dapat diambil pengertian bahwa seseorang telah belajar kalau terdapat perubahan tingkah laku melalui pengalaman atau latihan dalam dirinya.Perubahan tingkah laku tersebut menyangkut perubahan yang bersifat pengetahuan (kognitif), keterampilan (psikomotorik), maupun nilai dan sikap (afektif). Perubahan tersebut terjadi akibat interaksi dengan lingkungannya, tidak terjadi karena pertumbuhan fisik atau kedewasaan,  tidak karena kelelahan, penyakit atau perubahan karena obat-obatan. Selain itu perubahan tersebut relatif bersifat lama atau permanen dan menetap.

Jadi dapat disimpulkan bahwa belajar merupakan suatu proses perubahan tingkah laku pada diri seseorang yang sedang belajar dan interaksi dengan lingkungannya baik berupa pribadi, fakta, dan sebagainya dan perubahan tersebut bersifat konstan.

 

B.     Pengertian Pembelajaran

Pembelajaran adalah suatu upaya yang dilakukan oleh seseorang guru atau pendidik untuk membelajarkan siswa yang belajar. Pada pendidikan formal (sekolah), pembelajaran merupakan tugas yang dibebankan kepada guru, karena guru merupakan tenaga profesional yang dipersiapkan untuk itu (TIM Pengembang MKDP Kurikulum dan Pembelajaran, 2011: 128). Pembelajaran adalah proses interaksi antar siswa dengan lingkungannya. Guru perlu membangun interaksi secara penuh dengan memberikan kesempatanseluas luasnya kepada siswa untuk berinteraksi dengan lingkungannya.

1.             Tujuan Belajar

Tujuan belajar menurut (Sardiman, 2011: 26) dalam usaha pencapaian tujuan belajar perlu diciptakan adanya sistem lingkungan (kondisi) belajar yang lebih kondusif. Hal ini akan berkaitan dengan mengajar[8]. Mengajar diartikan sebagai suatu usaha penciptaan sistem lingkungan yang memungkinkan terjadinya proses belajar. Ditinjau secara umum, tujuan belajar ada tiga jenis, yaitu :

a.    Untuk mendapat pengetahuan.

b.    Penanaman konsep dan keterampilan.

c.    Pembentukan sikap.

Tujuan pembelajaran dapat diklasifikasikan atas tujuan umum dan tujuan khusus.Tujuan umum adalah pernyataan umum tentang hasil pembelajaran yang diinginkan yang mengacu pada struktur orientasi, sedangkan tujuan khusus adalah pernyataan khusus tentang hasil pembelajaran yang diinginkan yang mengacu pada konstruk tertentu.

2.      Interaksi Belajar Mengajar

Interaksi belajar mengajar menurut (Sardiman, 2011: 14) proses belajar mengajar akan senantiasa merupakan proses kegiatan interaksi antar dua unsur manusiawi, yaitu siswa sebagai pihak yang belajar dan guru sebagai pihak yang mengajar, dengan siswa sebagai subyek pokoknya. Dalam proses interaksi antar siswa dengan guru, dibutuhkan komponen-komponen pendukung seperti yang telah disebut pada ciri-ciri interaksi edukatif. Komponen-komponen tersebut berlangsungnya proses belajar mengajar tidak dapat dipisah-pisahkan. Perlu ditegaskan bahwa proses belajar mengajar yang dikatakan sebagai proses teknis ini, juga tidak dapat dilepaskan dari segi normatifnya, segi normatif inilahy mendasari proses belajar mengajar.

Menurut (Syah, 2013) faktor – faktor yang mempengaruhi belajar siswa dapat dibedakan menjadi tiga macam, yaitu:

1.    Faktor Internal (faktor dari dalam siswa), yakni keadaan atau kondisi jasmani dan rohani siswa

2.    Faktor Eksternal (faktor dari luar siswa), yakni kondisi lingkungan disekitar siswa.

3.    Faktor Pendekatan Belajar (approach to learning), yakni jenis upaya belajar siswa yang meliputi strategi dan metode yang digunakan siswa untuk melakukan kegiatan pembelajaran materi – materi pelajaran.

C.  Hasil Belajar Dari Pembelajaran

Pengertian hasil belajar menurut Chaplin, pengertian hasil belajar adalah: “Hasil belajar merupakan suatu tingkatan khusus yang diperoleh sebagai hasil dari kecakapan kepandaian, keahlian dan kemampuan di dalam karya akademik yang dinilai oleh guru atau melalui tes prestasi” (1992: 159).

Nasution (1972:45) berpendapat bahwa hasil belajar adalah kemampuan anak didik berdasarkan hasil dari pengalaman atau pelajaran setelah mengikuti program belajar secara periodik.[9] Dengan selesainya proses belajar mengajar pada umumnya dilanjutkan dengan adanya suatu evaluasi. Dimana evaluasi ini mengandung maksud untuk mengetahui kemajuan belajar atau penguasaan siswa atau terhadap materi yang diberikan oleh guru.

Dari hasil evaluasi ini akan dapat diketahui hasil belajar siswa yang biasanya dinyatakan dalam bentuk nilai atau angka. Dengan demikian hasil belajar merupakan suatu nilai yang menunjukkan hasil belajar dari aktifitas yang berlangsung dalam interaksi aktif sebagai perubahan dalam pengetahuan, pemahaman keterampilan dan nilai sikap menurut kemampuan anak dalam perubahan baru. Dalam proses belajar mengajar anak didik merupakan masalah utama karena anak didiklah yang diharapkan dapat menyerap seluruh materi pelajaran yang diprogramkan didalam kurikulum.

Pengertian dan konsep hasil belajar yang dikemukakan oleh ahli-ahli sedikit banyak dipengaruhi oleh aliran/teori yang dianutnya. Skinner dengan teori kondisioningnya memaparkan bahwa hasil belajar itu berupa respon baru (tingkah laku) yang baru. Dalam hal ini hasil belajar siswa dapat berupa respon atau tingkah laku baru yang membedakannya dengan sebelum siswa mengalami pembelajaran.

Menurut Abdurrahman yang dikutip oleh Asep Jihad, hasil belajar adalah kemampuan yang diperoleh kegiatan belajar. Dalam pembelajaran guru menetapkan tujuan belajar, siswa yang berhasil belajar adalah yang berhasil mencapai tujuan-tujuan permbelajaran. Menurut Benjamin S. Bloom ada tiga ranah (domain) hasil belajar yaitu kognitif, afektif dan psikomotorik. Dari ketiga ranah tersebut dapat dipaparkan sebagai berikut :

1. Ranah Kognitif

Tujuan kognitif adalah tujuan yang lebih banyak berkenaan dengan perilaku dalam aspek berfikir atau intelektual. Ada enam tingkatan dalam domain kognitif, antara lain :

1.      Pengetahuan atau ingatan yang mengacu pada kemampuan mengenal atau mengingat materi yang sudah dipelajari;

2.      Pemahaman, mencakup kemampuan untuk menangkap makna dari arti bahan (materi) yang dipelajari;

3.      Penerapan atau aplikasi, mencakup kemampuan untuk menarapkan suatu kaidah atau metode bekerja pada suatu kasus atau problem yang konkrit;

4.      Analisis, mencakup kemampuan untuk merinci suatu kesatuan kedalam bagian-bagian, sehingga struktur keseluruhannya atau organisasinya dapat dipahami dengan baik;

5.      Sintesis, mencakup kemampuan untuk membentuk suatu kesatuan atau pola baru. Bagian-bagian dihubungkan satu sama lain sehingga tercipta suatu bentuk baru;

6.      Evaluasi, mengacu pada kemampuan memberikan pertumbuhan/penilaian terhadap gejala atau peristiwa berdasarkan norma.

2. Ranah Afektif

Berkenaan dengan watak perilaku seperti keterampilan dan kemampuan bertindak setelah seseorang menerima pengalaman tertentu. Ranah afektif juga berkenaan dengan sikap dan nilai, yaitu tujuan-tujuan yang banyak berkenaan aspek perasaan, nilai, sikap dan minat perilaku siswa. Tipe hasil belajar afektif tampak pada siswa dalam berbagai tingkah laku seperti perhatian siswa, disiplin dan motivasi dalam pembelajaran.

Ada beberapa tingkatan bidang afektif antara lain :

1.      Penerimaan, mencakup kepekaan akan adanya suatu perangsang dan kesediaan memperhatikan rangsangan itu, seperti buku pelajaran atau penjelasan yang diberikan oleh guru;

2.      Pemberian respon yakni reaksi seseorang terhadap stimulasi yang datang pada siswa;

3.      Penghargaan terhadap nilai, mencakup kemampuan untuk memberikan penilaian terhadap sesuatu dan membawa diri sesuai dengan penilaian itu;

4.      Pengorganisasian, mencakup untuk suatu sistem nilai sebagai pedoman dan pegangan dalam kehidupan;

5.      Karakteristik nilai, yakni keterpaduan dari semua sistem nilai yang telah di nilai seseorang. Pada tingkat ini siswa bukan saja telah mencapai perilaku-perilaku tingkah laku rendah, tetapi telah mengintegrasikan nilai-nilai tersebut kedalam kehidupan yang konsisten.

3.         Ranah Psikomotor

Tujuan atau ranah psikomotor tampak dalam bentuk keterampilan dan kemampuan bertindak seseorang individu, ada tingkatannya antara lain :

1.      Gerak refleks atau meniru (imitation) yaitu mencakup kemampuan untuk meniru perilaku yang dilihatnya;

2.      Keterampilan pada gerakan-gerakan dasar;

3.      Kemampuan gerakan di bidang fisik;

4.      Kemampuan gerakan-gerakan skill;

5.      Kemampuan yang berkenaan dengan non de cursve.

Setelah guru selesai menyampaikan materi tertentu tindak mengajar diakhiri dengan proses evaluasi hasil belajar. Evaluasi hasil belajar dapat dilakukan menggunakan alat evaluasi yang berupa tes hasil belajar. Tes hasil belajar adalah tes yang digunakan untuk menilai hasil-hasil pelajaran yang telah diberikan oleh guru kepada siswa dalam waktu tertentu. Untuk mengukur hasil belajar dapat digunakan tes hasil belajar yang menurut jenisnya dapat dibagi dua yaitu tes hasil belajar bentuk uraian dan bentuk obyektif.

Jadi dapat disimpulkan hakikat hasil belajar Pendidikan Agama Kristen adalah suatu kegiatan yang dilakukan siswa dalam mempelajari Pendidikan Agama Kristen untuk menghasilkan perubahan tingkah laku yang berhubungan dengan aspek kognitif, afektif dan psikomotorik.

D.    Model Pembelajaran Discovery Learning

Model Pembelajaran Discovery Learning merupakan salah satu model pembelajaran yang bisa diterapkan disekolah dengan tujuan untuk meningkatkan kualitas pendidikan. Model pembelajaran Discovery Learning mengarahkan siswa untuk memahami konsep, arti, dan hubungan, melalui proses intuitif untuk akhirnya sampai kepada suatu kesimpulan (Budiningsih, 2005: 43). Penemuan konsep terjadi bila data dari guru tidak disajikan dalam bentuk akhir, tetapi dalam bentuk proses (never ending process). Dengan penggunaan model pembelajaran discovery learning siswa didorong untuk mengidentifikasi apa yang ingin diketahui dilanjutkan dengan mencari informasi sendiri kemudian mengorganisasi atau membentuk (konstruksi) apa yang mereka ketahui dan mereka pahami dalam suatu bentuk akhir.  Sebagaimana pendapat Brunner, bahwa “Discovery Learning can be defined as the learning that takes place when the student is not presented with subject matter”. Hal tersebut terjadi bila siswa terlibat, terutama dalam penggunaan proses mentalnya untuk menemukan beberapa konsep dan prinsip. Discovery dilakukan melalaui observasi, klasifikasi, pengukuran, prediksi, penentuan dan inferi. Proses tersebut disebut cognitive process sedangkan discovery itu sendiri adalah the mental process of assimilating conceps and principles in the mind (Robert B. Sund dalam Malik, 2001: 219). Dengan mengaplikasikan Discovery Learning secara berulang-ulang dapat meningkatkan kemampuan penemuan diri individu yang bersangkutan. Penggunaan Discovery Learning ingin merubah kondisi belajar yang pasif menjadi aktif dan kreatif. Mengubah pembelajaran yang teacher oriented ke student oriented. Merubah modus Ekspository siswa hanya menerima informasi secara keseluruhan dari guru ke modus Discovery siswa menemukan informasi sendiri.

Langkah Pembelajaran discovery Learning, sebagai berikut :

1)    Menciptakan stimulus/ rangsangan (Stimulation) Kegiatan penciptaan stimulus dilakukan pada saat siswa melakukan aktivitas mengamati fakta atau fenomena dengan cara melihat, mendengar, membaca, atau menyimak. Fakta yang disediakan dimulai dari yang sederhana hingga fakta atau femomena yang menimbulkan kontroversi. Pada tahapan ini siswa dihadapkan pada sesuatu yang menimbulkan perhatian, kemudian dilanjutkan untuk tidak memberi generalisasi agar timbul keinginan untuk menyelidiki sendiri. Di samping itu guru dapat memulai kegiatan Proses Belajar Mengajar (PBM) dengan mengajukan pertanyaan, anjuran membaca buku, dan aktivitas belajar lain yang mengarah pada persiapan pemecahan masalah. Stimulasi pada tahap ini berfungsi untuk menyediakan kondisi interaksi belajar yang dapat mengembangkan dan membantu siswa dalam mengeksplorasi bahan.  Dalam hal ini Brunner memberikan contoh stimulasi dengan menggunakan teknik bertanya, yaitu dengan mengajukan pertanyaan-pertanyaan yang dapat menghadapkan siswa pada kondisi internal yang mendorong eksplorasi. Dengan demikian seorang guru harus menguasai teknik-teknik dalam memberi stimulus agar tujuan mengaktifkan siswa untuk mengeksplorasi dapat tercapai.

2)    Menyiapkan pernyataan masalah (Problem Statement) Setelah dilakukan stimulasi, langkah selanjutnya adalah guru memberi kesempatan kepada siswa untuk mengidentifikasi sebanyak mungkin agendaagenda masalah yang relevan dengan bahan pelajaran, kemudian salah satunya dipilih dan dirumuskan dalam bentuk hipotesis (jawaban sementara atau opini atas pertanyaan masalah) (Syah, 2004: 244).  Permasalahan yang dipilih itu selanjutnya dirumuskan dalam bentuk pertanyaan atau hipotesis, yakni pernyataan (statement) sebagai jawaban sementara atas pertanyaan yang diajukan. Memberikan kesempatan kepada siswa untuk mengidentifikasi dan menganalisis permasalahan yang dihadapi merupakan teknik yang berguna agar mereka terbiasa menemukan suatu masalah.

3)    Mengumpulkan data (Data Collecting) Ketika eksplorasi berlangsung guru juga memberi kesempatan kepada siswa untuk mengumpulkan informasi sebanyak-banyaknya yang relevan dalam rangka membuktikan benar atau tidaknya hipotesis (Syah, 2004:244). Dengan demikian siswa diberi kesempatan untuk mengumpulkan (collection) berbagai informasi yang relevan, melalui berbagai cara, misalnya, membaca literatur, mengamati objek, wawancara dengan narasumber, melakukan uji coba sendiri dan sebagainya. Manfaat dari tahap ini adalah siswa belajar secara aktif untuk menemukan sesuatu yang berhubungan dengan permasalahan yang dihadapi, sehingga secara alamiah siswa menghubungkan masalah dengan pengetahuan yang telah dimiliki.

4)    Mengolah data (Data Processing) Menurut Syah (2004: 244) pengolahan data merupakan kegiatan mengolah data dan informasi yang telah diperoleh siswa baik melalui wawancara, observasi, dan sebagainya, lalu ditafsirkan. Semua informai hasil bacaan, wawancara, observasi, dan sebagainya, semuanya diolah, diacak, diklasifikasikan, ditabulasi, bahkan bila perlu dihitung dengan cara tertentu serta ditafsirkan pada tingkat kepercayaan tertentu (Djamarah, 2002: 22)[10]. Pengolahan data disebut juga dengan pengkodean (coding) atau kategorisasi yang berfungsi sebagai pembentukan konsep dan generalisasi. Dari generalisasi tersebut siswa akan mendapatkan pengetahuan baru tentang alternatif jawaban/ penyelesaian yang perlu mendapat pembuktian secara logis.

5)    Memverifikasi data (Verrification) Pada tahap ini siswa melakukan pemeriksaan secara cermat untuk membuktikan benar atau tidaknya hipotesis yang ditetapkan sebelumnya dengan temuan alternatif, dihubungkan dengan hasil data processing (Syah, 2004: 244). Dalam hal verification, menurut Brunner, proses belajar akan berjalan dengan baik dan kreatif jika guru memberikan kesempatan kepada siswa untuk menemukan suatu konsep, teori, aturan atau pemahaman melalui contoh-contoh yang dijumpai dalam kehidupannya. Berdasarkan hasil pengolahan data dan tafsiran terhadap data, kemudian dikaitkan dengan hipotesis, maka akan terjawab apakah  hopotesis tersebut terbukti atau tidak.

6)    Menarik kesimpulan (Generalization) Tahap generalisasi/ menarik kesimpulan adalah proses menarik sebuah kesimpulan yang dapat dijadikan prinsip umum dan berlaku untuk semua kejadian atau masalah yang sama, dengan memperhatikan hasil verifikasi (Syah, 2004: 244). Berdasarkan hasil verifikasi maka  dirumuskan prinsip-prinsip yang mendasari generalisasi. Setelah menarik kesimpulan siswa harus memperhatikan proses generalisasi yang menekankan pentingnya penguasaan materi pelajaran atas makna dan kaidah atau prinsip-prinsip yang luas yang mendasari pengalaman seseorang, serta pentingnya proses pengaturan dan generalisasi dari pengalaman-pengalaman itu.

Atau dengan kata lain, langkah-langkah pembelajaran discovery adalah sebagai berikut:

1.    identifikasi kebutuhan siswa;

2.    seleksi pendahuluan terhadap prinsip-prinsip, pengertian konsep dan generalisasi pengetahuan;

3.    seleksi bahan, problema/ tugas-tugas;

4.    membantu dan memperjelas tugas/ problema yang dihadapi siswa serta peranan masing-masing siswa;

5.    mempersiapkan kelas dan alat-alat yang diperlukan;

6.    mengecek pemahaman siswa terhadap masalah yang akan dipecahkan;

7.    memberi kesempatan pada siswa untuk melakukan penemuan;

8.    membantu siswa dengan informasi/ data jika diperlukan oleh siswa;

9.    memimpin analisis sendiri (self analysis) dengan pertanyaan yang mengarahkan dan mengidentifikasi masalah;

10.     merangsang terjadinya interaksi antara siswa dengan siswa;

11.     membantu siswa merumuskan prinsip dan generalisasi hasil penemuannya.

Salah satu metode belajar yang akhir-akhir ini banyak digunakan di sekolah-sekolah yang sudah maju adalah metode discovery. Hal ini disebabkan karena metode ini:

(1) merupakan suatu cara untuk mengembangkan cara belajar siswa aktif;

(2) dengan menemukan dan menyelidiki sendiri konsep yang dipelajari, maka hasil yang diperoleh akan tahan lama dalam ingatan dan tidak mudah dilupakan siswa;

(3) pengertian yang ditemukan sendiri merupakan pengertian yang betul-betul dikuasai dan mudah digunakan atau ditransfer dalam situasi lain;

(4) dengan menggunakan strategi discovery anak belajar menguasai salah satu metode ilmiah yang akan dapat dikembangkan sendiri;

(5) siswa belajar berpikir analisis dan mencoba memecahkan problema yang dihadapi sendiri, kebiasaan ini akan ditransfer dalam kehidupan nyata.

Beberapa keuntungan belajar discovery yaitu:

(1) pengetahuan bertahan lama dan mudah diingat;

(2) hasil belajar discovery mempunyai efek transfer yang lebih baik dari pada hasil lainnya;

(3) secara menyeluruh belajar discovery meningkatkan penalaran siswa dan kemampuan untuk berpikir bebas. Secara khusus belajar penemuan melatih keterampilan-keterampilan kognitif siswa untuk menemukan dan memecahkan masalah tanpa pertolongan orang lain.

Beberapa keunggulan metode penemuan juga diungkapkan oleh Suherman, dkk (2001: 179) sebagai berikut:

1.      siswa aktif dalam kegiatan belajar, sebab ia berpikir dan menggunakan kemampuan untuk menemukan hasil akhir;

2.      siswa memahami benar bahan pelajaran, sebab mengalami sendiri proses menemukannya. Sesuatu yang diperoleh dengan cara ini lebih lama diingat;

3.      menemukan sendiri menimbulkan rasa puas. Kepuasan batin ini mendorong ingin melakukan penemuan lagi sehingga minat belajarnya meningkat;

4.      siswa yang memperoleh pengetahuan dengan metode penemuan akan lebih mampu mentransfer pengetahuannya ke berbagai konteks; metode ini melatih siswa untuk lebih banyak belajar sendiri.

Selain memiliki beberapa keuntungan, metode discovery (penemuan) juga memiliki beberapa kelemahan, diantaranya membutuhkan waktu belajar yang lebih lama dibandingkan dengan belajar menerima. Untuk mengurangi kelemahan tersebut maka diperlukan bantuan guru. Bantuan guru dapat dimulai dengan mengajukan beberapa pertanyaan dan dengan memberikan informasi secara singkat. Pertanyaan dan informasi tersebut dapat dimuat dalam lembar kerja peserta didik (LKPD) yang telah dipersiapkan oleh guru sebelum pembelajaran dimulai.

Penggunaan model pembelajaran discovery learning menjadi salah satu solusi dalam meningkatkan keaktifan, minat, serta kesadaran anak dalam belajar. Penyajian materi tidak secara utuh dapat merangsang anak untuk mencari tahu dan mengkonstruk pemahaman anak terhadap suatu konsep beradasarkan pengalaman belajar. Penggunaan model pembelajaran discovery learning membuat anak lebih aktif selama pembelajaran, anak lebih senang dan dapat berinteraksi dengan kelompoknya untuk bersama-sama memahami suatu fenomena.

Bruner menunjukkan bahwa setiap individu memiliki kemauan untuk belajar dan ini harus digunakan dalam kegiatan-kegiatan yang seharusnya membangkitkan keingintahuan dan mengarahkan anak untuk mempelajari dan menemukan pengetahuan. Belajar terjadi dengan penemuan, yang memprioritaskan refleksi, berpikir, bereksperimen, dan mengeksplorasi (Bruner dalam Balim, 2009).

Dalam pembelajaran discovery learning, guru berperan memunculkan permasalahan-permasalahan yang harus dipecahkan dan memandu anak dalam memecahkan permasalahan tersebut (Syarifudin & Lestari, 2018).

Manfaat Model Discovery Learning, sebagai berikut :

1)      Membantu siswa memperbaiki dan meningkatkan keterampilan kognisi. Usaha penemuan merupakan kunci dalam proses ini dimana keberhasilan tergantung pada bagaimana cara belajarnya.  

2)       Pengetahuan yang diperoleh bersifat individual dan optimal karena menguatkan pengertian, ingatan, dan transfer pengetahuan.

3)      Menumbuhkan rasa senang pada siswa, karena berhasil melakukan penyelidikan.

4)      Memungkinkan siswa berkembang dengan cepat sesuai kemampuannya.

5)       Menyebabkan siswa mengarahkan kegiatan belajar dengan melibatkan akal dan motivasinya.

6)      Membantu siswa memperkuat konsep dirinya, karena memperoleh kepercayaan diri melalui kerjasama dengan siswa lain.

7)      Membantu siswa menghilangkan keraguan karena mengarah pada kebenaran final yang dialami dalam keterlibatannya.

8)      Mendorong siswa berpikir secara intuitif, inisiatif, dalam merumuskan hipotesis.

9)      Dapat mengembangkan bakat, minat, motivasi, dan keingintahuan.

10)   Memungkinkan siswa memanfaatkan berbagai sumber belajar.

11)  Pengetahuan itu bertahan lama atau lebih mudah diingat, hasil belajar mempunyai efek transfer yang lebih baik, dan meningkatkan penalaran siswa dan kemampuan untuk berpikir (Purnandita, Efendi, & Siswanto, 2018).

 

Sintak model pembelajaran Discovery Learning dalam pembelajaran Pendidikan Agama Kristen Kelas III SD Negeri 01 Nabire materi Aku Bersyukur Akan Turunnya Hujan (Kehadiran Allah Dalam Cuaca Hujan) dapat dilihat dalam langkah-langkah berikut ini:

Kegiatan Inti

Sintak

Model Pembelajaran

Kegiatan Pembelajaran

Pemberian Rangsangan (Stimulation)

·         Peserta didik dibagi kedalam kelompok

·         Guru menyajikan atau menampilkan gambar

·         Peserta didik mengamati gambar hujan

·         Peserta didik Membaca (Literasi) tentang Aku Bersyukur akan turunnya hujan (Kehadiran Allah dalam cuuaca hujan)

      menurut Alkitab di Mazmur 74:17; Zakaria 10:1

Pernyataan/Identifikasi Masalah (Problem Statement)

·         Peserta didik diminta untuk memberi komentar/tanggapan apa yang dipahami  tentang Aku Bersyukur akan turunnya hujan (Kehadiran Allah dalam cuuaca hujan)  berdasarkan gambar yang telah diamati oleh peserta didik.

Pengumpulan data (Data Collection)

·         Guru membimbing peserta didik melakukan pengumpulan data/informasi (pengetahuan, konsep, teori)

·         Masing-masing kelompok dibagikan tugas yang berbeda untuk didiskusikan atau dikerjakan :

 

Kelompok 1

-          Pengertian beryukur dan arti cuaca

berdasarkan KBBI

-          Arti dari Kehadiran Allah dalam cuaca hujan menurut Alkitab di Mazmur 74:17; Zakaria 10:1

 

Kelompok 2

Upaya orang percaya mewujudkan ungkapan syukur atas kehadiran Allah dalam cuaca hujan

·         Saling berdiskusi atau tukar informasi dalam kelompok masing-masing tentang masalah yang dibahas tersebut.

 

Mengolah data (Data Processing)

·         Membimbing peserta didik  melakukan kegiatan mengolah data melalui diskusi kelompok untuk menyelesaikan tugas yang dibahas

 

Pembuktian (Verifikasi data)

·         Membimbing peserta didik yang sudah siap untuk mempresentasikan hasil kerja kelompok

·         Memberikan tanggapan dan masukan apabila diperlukan

Menarik kesimpulan (Generalization)

-          Membimbing Peserta didik untuk menyusun kesimpulan terhadap hasil diskusi dan membimbing siswa memahami tentang arti beryukur dan arti cuaca serta arti kehadiran Allah dalam cuaca hujan berdasarkan Alkitab dalam Mazmur 74:17; Zakaria 10:1.

·         Guru dan peserta didik membuat rangkuman atau simpulan terhadap materi yang di bahas kelompok 1 s.d  kelompok 2

 

 

 

 

 

E.     Hubungan Hasil Belajar Siswa dan  Model Pembelajaran Discovery Learning

Menurut Chaplin, pengertian hasil belajar adalah: “Hasil belajar merupakan suatu tingkatan khusus yang diperoleh sebagai hasil dari kecakapan kepandaian, keahlian dan kemampuan di dalam karya akademik yang dinilai oleh guru atau melalui tes prestasi” (1992: 159). Hasil belajar meliputi aspek kognitif, afektif dan psikomotorik. Jadi Hasil belajar siswa  dalam mata pelajaran Pendidikan Agama Kristen adalah suatu kegiatan yang dilakukan siswa dalam mempelajari Pendidikan Agama Kristen untuk menghasilkan perubahan tingkah laku yang berhubungan dengan aspek kognitif, afektif dan psikomotorik.

Berdasarkan data hasil ulangan harian yang telah diberikan kepada siswa Kelas III SD Negeri 01 Nabire pada semester genap tahun pelajaran 2019/2020, hasil belajar siswa untuk mata pelajaran Pendidikan Agama Kristen masih termasuk kategori rendah atau belum mencapai ketuntasan yang diharapkan. Ketuntasan belajar individual yang harus dicapai oleh siswa adalah minimal 70% dan ketuntasan belajar klasikal minimal 80%. Melihat kondisi pembelajaran Pendidikan Agama Kristen yang demikian itu, penulis merasa perlu untuk melakukan perbaikan pada pembelajaran yang dilakukan. Salah satu upaya yang dilakukan adalah dengan menerapkan model pembelajaran yang agak berbeda dari sebelumnya. Sebab itu perlu mencoba menerapkankan sebuah model pembelajaran yang termasuk jenis pembelajaran kooperatif, yaitu Model Discovery Learning.

Model Pembelajaran Discovery Learning merupakan salah satu model pembelajaran yang bisa diterapkan disekolah dengan tujuan untuk meningkatkan kualitas pendidikan atau hasil belajar siswa khususnya pada mata pelajaran pendidikan Agama Kristen. Penggunaan Discovery Learning ingin merubah kondisi belajar yang pasif menjadi aktif dan kreatif. Dengan menerapkan model ini dalam pembelajaran Pendidikan Agama Kristen di Kelas III SD Negeri 01 Nabire diharapkan mampu meningkatkan hasil belajar siswa pada mata pelajaran Pendidikan Agama Kristen dan Budi Pekerti.

HIPOTESIS TINDAKAN

Berdasarkan pada permasalahan dalam Penelitian Tindakan Kelas yang berjudul Meningkatkan Hasil Belajar siswa melalui Model Pembelajaran Discovery Learning Pada  Mata Pelajaran Pendidikan Agama Kristen Di Kelas III SD Negeri 01 Nabire Semester Ganjil Tahun Pelajaran 2020/2021”, yang dilakukan oleh peneliti, dapat dirumuskan hipotesis tindakan sebagai berikut:

"Jika Proses Belajar Mengajar Siswa Kelas III SD Negeri 01 Nabire menggunakan model pembelajaran Discovery Learning dalam menyampaikan materi pembelajaran, maka dimungkinkan hasil belajar siswa kelas III tersebut akan lebih baik dan meningkat dibandingkan dengan proses belajar mengajar yang dilakukan  sebelumnya".

 III.            METODOLOGI PENELITIAN

A.    Setting penelitian

1.      Tempat penelitian

Penelitian tindakan kelas ini dilakukan di SD Negeri 01 Nabire, untuk mata pelajaran Pendidikan Agama Kristen dan Budi Pekerti.

2.      Waktu penelitian

Penelitian dilaksanakan pada tahun ajaran baru 2020/2021, selama satu semester yaitu bulan Juli-Desember 2020. Penentuan waktu penelitian mengacu pada kalender akademik

3.      Metode Penelitian

Metode penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode deskriptif melalui penelitian tindakan kelas dilaksanakan dalam 2 siklus untuk melihat peningkatan hasil belajar siswa dalam mengikuti proses belajar mengajar mata pelajaran Pendidikan Agama Kristen dengan  penerapan model Discovery Learning.

4.      Jenis Pendekatan

Jenis penelitian ini adalah bersifat lapangan (Field Research) yang dilakukan dengan menggunakan pendekatan kualitatif, yakni untuk mengetahui hasil belajar siswa serta respon/tanggapan siswa terhadap pembelajaran dengan model Discovery Learning di Kelas III SD Negeri 01 Nabire.

B.     Subjek dan Objek Penelitian

Subjek penelitian ini adalah  siswa Kelas III SD Negeri 01 Nabire tahun pelajaran 2019/2020 dengan jumlah siswa 8 siswa yang terdiri dari 6 siswa perempuan dan 2 siswa laki-laki, Kelas III dijadikan subjek penelitian karena di kelas tersebut belum pernah dicoba pembelajaran dengan model Discovery Learning.

Objek penelitian ini adalah pembelajaran Pendidikan Agama Kristen dan Budi Pekerti dengan model Discovery learning.

C.    Data dan Sumber Data

1.      Data

Data yang digali dalam penelitian ini ada dua macam yaitu data pokok dan data penunjang.

a.       Data Pokok

1)      Data tentang hasil belajar siswa dengan menggunakan model pembelajaran  Discovery  Learning di Kelas III SD Negeri 01 Nabire.

2)      Data tentang respon siswa terhadap pembelajaran dengan menggunakan model pembelajaran Discovery learning.

b.      Data Penunjang

Data penunjang merupakan data pelengkap dalam penelitian ini yang meliputi gambaran umum lokasi penelitian dan dokumen-dokumen informasi lainnya.

2.      Sumber Data

Sumber data dalam penelitian ini terdiri dari :

a.       Sumber data pokok, yaitu  siswa Kelas III SD Negeri 01 Nabire.

b.      Sumber data penunjang, yaitu orang yang dapat memberikan informasi untuk mengumpulkan data (guru dan staf tata usaha).

D.    Tehnik Pengumpulan Data

Untuk mengumpulkan data dalam penelitian ini penulis menggunakan beberapa teknik, yang terdiri dari data pokok dan data penunjang.

1.      Teknik pengumpulan data pokok

Tes

Teknik ini digunakan untuk memperoleh data mengenai hasil belajar yang dicapai siswa setelah mengikuti pembelajaran, tes yang digunakan berupa tes hasil belajar yang diukur  menggunakan instrument tes hasil belajar.

Tabel 1 Kisi-kisi  Soal Evaluasi Siklus 1

Indikator Soal

No. Soal

Peserta didik dapat menjelaskan pengertian bersyukur, cuaca dan kehadiran Allah dalam cuaca hujan

1

Peserta didik menganalisis Kehadiran Allah dalam cuaca hujan

dalam Alkitab berdasarkan  Mazmur 74:17; Zakaria 10:1 dan Yehezkiel 34:26

2

Peserta didik dapat menganalisis kehadiran Allah dalam cuaca hujan dan upaya orang percaya mewujudkan ungkapan syukur atas kehadiran Allah dalam cuaca hujan

3

 

Tabel 2 Kisi-kisi  Soal Evaluasi Siklus 2

Indikator Soal

No. Soal

Peserta didik dapat menjelaskan  nilai-nilai Kehadiran Allah dalam cuaca hujan

1

Peserta didik menganalisis makna ungkapan syukur atas kehadiran Allah dalam cuaca hujan  berdasarkan Mazmur 74:17; Zakaria 10:1 dan Yehezkiel 34:26

2

Peserta didik dapat menganalisis contoh-contoh ungkapan syukur atas Kehadiran Allah dalam cuaca hujan

3

 

2.      Teknik pengumpulan data penunjang

Salah satu teknik pengumpulan data penunjang adalah teknik dokumentasi dan wawancara. Teknik ini digunakan sebagai pelengkap dalam data-data tentang lokasi penelitian, keadaan sekolah, sarana dan prasarana lainnya. 

E.     Validitas Data

Hasil belajar (nilai tes) yang divalidasi instrumen tes menentukan validasi teoritik maupun validasi empirik (analisis kualitatif dan kuantitatif). Proses pembelajaran (tes ) yang divalidasi datanya melalui trianggulasi, baik sumber maupun metoda.

F.     Tehnik Analisis Data

Teknik analisis data dalam penelitian ini menggunakan teknik analisa dengan persentase. Rumus persentase yang digunakan seperti dikutip Sudijono adalah :

P =  x 100%

Keterangan :

P = Persentase

F = Frekuensi yang sedang dicari persentasenya

N = Banyaknya individu

 

Setelah dicari persentasenya kemudian dilakukan pengelompokkan hasil belajar siswa dengan menggunakan kualifikasi sebagai berikut :

Tabel 3 Daftar kualifikasi hasil belajar siswa

No

Kualifikasi

Skor

1

2

3

4

5

Baik Sekali

Baik

Cukup

Kurang

Sangat Kurang

86 – 100

71 – 85

56 – 70

41 – 55

≤ 40

 

Tahapan Mengukur Hasil Belajar Siswa

Setelah selesai menghitung skor perkembangan individu langkah selanjutnya adalah pemberian penghargaan (reward) kepada kelompok. Penghargaan kelompok didasarkan ukuran besarnya skor peningkatan yang diperoleh setiap kelompok. Untuk menentukan skor yang dicapai kelompok digunakan rumus yang diadaptasi dari Slavin.

Nk =

Keterangan :

Nk = Nilai perkembangan kelompok

G.    Indikator Kinerja

            Penelitian Tindakan Kelas ini dinyatakan berhasil jika :

1.      Siswa secara individu memenuhi KKM ≥ 70

2.      Secara Klasikal siswa yang memenuhi KKM sebesar ≥80%

3.      Secara Klasikal sebanyak ≥80% siswa dalam Kategori Aktif atau sangat aktif.

H.    Prosedur Penelitian

Pelaksanaan PTK ini melalui 2 tahapan siklus. Kedua tahapan tersebut terdiri dari perencanaan tindakan, pelaksanaan, observasi dan refleksi

1.       Siklus I

Siklus dengan 2 kali pertemuan dengan waktu tatap muka 4 x 35 menit. Penelitian ini melalui empat tahap PTK, yaitu perencanaan, pelaksanaan tindakan, observasi dan refleksi. Secara rinci kegiatan yang dilakukan pada setiap tahapan tersebut adalah sebagai berikut :

Pelaksanaan penelitian tindakan kelas pada siklus I adalah sebagai berikut:

a.       Perencanaan

1)      Merancang skenario pembelajaran yang dijabarkan dalam Satuan Pelajaran (SP). Satuan Pelajaran dijabarkan menjadi unit-unit kecil dikenal dengan Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP).

2)      Menyiapkan instrument pembelajaran sesuai dengan rencana pembelajaran yang dibuat yaitu LKPD atau daftar pertanyaan.

3)      Menyusun instrument penelitian berupa tes (tes hasil belajar).

b.      Pelaksanaan Tindakan

Dalam pelaksanaan tindakan dilakukan kegiatan sebagai berikut :

1)      Memberikan pretest siklus I kepada siswa sebelum dilaksanakan pembelajaran.

2)      Melaksanakan kegiatan belajar mengajar, dalam kegiatan ini dilakukan dengan mengkaji konsep sesuai tuntunan kurikulum melalui penggunaan model Pembelajaran Discovery Learning.

3)      Melaksanakan pos test siklus I.

c.       Observasi Tindakan

Pada tahap ini dilakukan observasi terhadap efektivitas penggunaan sumber belajar, hambatan dan kesulitan guru dan siswa pada saat pembelajaran. Seluruh hasil dicatat atau dibukukan untuk dijadikan bahan pertimbangan untuk melakukan refleksi.

d.            Tahap Refleksi

Tahap refleksi merupakan kegiatan untuk mengemukakan kembali apa saja yang sudah dilakukan, yang digunakan sebagai pertimbangan untuk memasuki siklus ke II.

2.       Siklus ke II

Siklus II dengan 2 kali pertemuan dengan waktu tatap muka 4 x 35 menit.

a.       Perencanaan

1)      Merancang skenario pembelajaran yang dijabarkan dalam Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP).

2)      Menyiapkan LKPD atau daftar pertanyaan dengan mengacu pada model pembelajaran Discovery learning.

3)      Menyusun instrument penelitian berupa tes (tes hasil belajar).

b.      Pelaksanaan Tindakan

Dalam pelaksanaan tindakan dilakukan kegiatan sebagai berikut :

1)      Melaksanakan pretest siklus ke II.

2)      Kegiatan belajar mengajar, dilakukan dengan mengkaji konsep sesuai tuntutan kurikulum  menggunakan model pembelajaran Discovery learning.

3)      Melaksanakan postest siklus ke II

c.       Observasi Tindakan

Pada tahap ini dilakukan observasi terhadap penguasaan materi pelajaran diperoleh dari hasil tes akhir pelajaran dengan menerapkan model pembelajaran Discovery learning. Seluruh hasil dicatat atau dibukukan untuk dijadikan bahan pertimbangan untuk melakukan refleksi.

d.      Tahap Refleksi

Peneliti melaksanakan refleksi terhadap pelaksanaan siklus I dan menganalisis untuk membuat kesimpulan atas pelaksanaan pembelajaran dengan menerapkan metode Discovery Learning dalam peningkatan hasil belajar siswa dalam mata pelajaran PAK.

I.       Personalia Peneliti

Nama peneliti                          : Kusniawati

NIP                                         : -

Tanggal Lahir                          : Cirebon, 13 Oktober 1980

Alamat                                                : Jl. Ujung Pandang RT. 020 RW. 002 Karang Mulia Nabire

Tempat Mengajar                    : SD Negeri 01 Nabire

Alamat Sekolah                       : Jl. Pattimura Nabire

Telpon/ HP                              : 081232268877

Peran/bidang dalam sekolah   : Guru Pendidikan Agama Kristen (PAK) dan Budi Pekerti

Peran saya dalam penelitian ini adalah sebagai peneliti

J.      Rencana  Biaya Penelitian

Penelitian ini tidak membutuhkan anggaran (biaya) yang berarti, karena tidak diperlukan fasilitas-fasilitas (ATK, Peraga, dll). Kalaupun ada hanya digunakan untuk pembuatan laporan penelitian yang tidak seberapa.

K.    Jadwal Penelitian

No

 

Jadwal Kegiatan

Bulan

Juli

Agt

Sept

Okt

Nov

Des

 

1

Penyusunan Proposal

X

 

 

 

 

 

 

2

Pembuatan Instrumen Penelitian

 

X

 

 

 

 

 

3

Izin penelitian

 

X

 

 

 

 

 

4

Menyiapkan kelas

 

 

X

 

 

 

 

5

Melakukan siklus I

 

 

X

 

 

 

 

6

Melakukan Siklus II

 

 

 

X

 

 

 

7

Hasil Penelitian

 

 

 

X

 

 

 

8

Seminar hasil penelitian

 

 

 

 

X

 

 

9

Perbaikan Laporan

 

 

 

 

X

 

 

10

Laporan penelitian

 

 

 

 

 

X

 

 

L.     DAFTAR PUSTAKA

Arief, Armai. Pengantar Ilmu dan Metodologi Pendidikan Islam. Jakarta. Ciputat Pers, 2002.

Chulsum, Umi, Windi Novia. Kamus Besar B. Indonesia. Surabaya. Kashiko, 2006.

Dimyati dan Mujiono, Belajar dan Pembelajaran. Jakarta. Rieneka Cipta, 1999.

Direktur Jendral Pendidikan Islam Departemen Agama RI, Undang-undang & Peraturan Pemerintah Tentang Pendidikan. Jakarta, 2006.

Djamarah, Syaipul Bahri, Guru dan Anak Didik dalam Interaksi Edukatif. (Jakarta: Rineka Cipta. 2005)

Ibrahim, dkk. Pembelajaran Kooperatif. Surabaya. University Press, 2000.

Ilyas, Asnelly. Mendambakan anak soleh, prinsip-prinsip pendidikan anak dalam islam. Bandung. Albayan, 1998.

Muhammad Fahmi. Modul Kurikulum Dan Strategi Pembelajaran Pendidikan Frofesi Guru (PPG) Dalam Jabatan. Kementrian Agama RI Direktorat Jendral Pendidikan Islam Direktorat Pendidikan  Agama Islam.2019.

Musoffa. Penggunaan Model Pembelajaran Kooperatif Tipe TAI untuk Meningkatkan Hasil Belajar Persamaan Linier pada Siswa Kelas VII ASMP Negeri 3 Belaewang Tahun Pelajaran 2007/2008. STIKIP PGRI Banjarmasin.

Nasution.2000. Dikdaktik Asas-asas Mengajar. Bandung: Sinar Baru Algensindo.

Nur, Mohammad. Disadur dari A Practical Guide to Cooperatif Learning oleh Robert E. Slavin dan diterbitkan oleh Allyn And Bacon 1994 menjadi Pembelajaran Kooperatif. Surabaya. Pusat Siance dan Matematika UNESA, 2005.

Oemar Hamalik. 2001. Psikologi Belajar Mengajar. Bandung: Sinar Baru Algensindo.

Sadili, Hasan dan John, M. Ecoln. Kamus Umum Lengkap B. Inggris. Jakarta. Gramedia, cetakan XXV, 2000.

Sardiman, A.M. 2007. Interaksi dan Motivasi belajar Mengajar. Jakarta: Raja Grafindo Persada.

Slameto. Belajar dan Faktor-Faktor yang Mempengaruhinya. Jakarta. Rineka Cipta, 2003.

Slameto. 1998. Didaktik Metodik. Jakarta : Pustaka Jaya.

Sudijono, Anas. Pengantar Statistik Pendidikan. Jakarta. Raja Grafindo Persada, 2003

Syaiful Bahri Djamarah. 2002. Psikologi Belajar. Jakarta: Rineka Cipta.

The Liang Gie. 2000. Kamus Psikologi. Jakarta : PN. Balai Pustaka

Uhbiyati, Nur, Ilmu Pendidikan Islam. Bandung. CV Pustaka Setia, 1997.

Verbianto, dkk. Kamus Pendidikan. Jakarta. Gramedia Widia Sarana, 1994.

Winkel,WS. 2001. Psikologi Pengajaran. Jakarta: Gramedia.

Wojowasito, S, Kamus Umum Lengkap B. Inggris. Bandung. Pangeran, 1996.

 

 



[1] Arief, Armai. Pengantar Ilmu dan Metodologi Pendidikan Islam. Jakarta. Ciputat Pers, 2002. Hal. 48

 

[2] Chulsum, Umi, Windi Novia. Kamus Besar B. Indonesia. Surabaya. Kashiko, 2006.

 

[3] Oemar Hamalik. 2001. Psikologi Belajar Mengajar. Bandung: Sinar Baru Algensindo.

 

[4] Slameto. Belajar dan Faktor-Faktor yang Mempengaruhinya. Jakarta. Rineka Cipta, 2003.

 

[5] The Liang Gie. 2000. Kamus Psikologi. Jakarta : PN. Balai Pustaka

 

[6] Nasution.2000. Dikdaktik Asas-asas Mengajar. Bandung: Sinar Baru Algensindo.

 

[7] Djamarah, Syaipul Bahri, Guru dan Anak Didik dalam Interaksi Edukatif. (Jakarta: Rineka Cipta. 2005)

 

[8] Sardiman, A.M. 2007. Interaksi dan Motivasi belajar Mengajar. Jakarta: Raja Grafindo Persada.

 

[9] Nasution.2000. Dikdaktik Asas-asas Mengajar. Bandung: Sinar Baru Algensindo.

 

[10] Djamarah, Syaipul Bahri, Guru dan Anak Didik dalam Interaksi Edukatif. (Jakarta: Rineka Cipta. 2005)

Komentar