JUDUL : MENINGKATKAN
HASIL BELAJAR SISWA MELALUI
MODEL PEMBELAJARAN
DISCOVERY LEARNING PADA
MATA PELAJARAN PENDIDIKAN AGAMA KRISTEN DAN
BUDI PEKERTI DI KELAS III SD NEGERI 01 NABIRE SEMESTER GANJIL TAHUN PELAJARAN
2020/2021
Peneliti : Kusniawati
I.
PENDAHULUAN
A. Latar
Belakang Masalah
Pendidikan merupakan bagian yang penting dalam
kehidupan manusia. Seiring dengan perkembangan zaman dan pertumbuhan manusia
sebagai subjek dan objek pendidikan adalah manusia yang mempunyai potensi untuk
berkembang kearah yang lebih maju dari sebelumnya, oleh sebab itulah mengapa
pendidikan bertujuan mencapai kedewasaan baik jasmani maupun rohani.
Bagi suatu bangsa, pendidikan merupakan cermin dari
sebuah kemajuan. Hal ini tergantung kepada sistem dan kualitas pendidikannya.
Oleh karena itu Pemerintah Indonesia telah mengatur dan merumuskan tujuan
pendidikan nasional sebagai pedoman bagi pelaksanaan pendidikan yang termaktub
dalam UU RI No. 20 Tahun 2003 tentang sistem pendidikan nasional, yaitu[1] :
Pendidikan nasional berfungsi mengembangkan
kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam
rangka mencerdaskan kehidupan bangasa, bertujuan untuk berkembangnya potensi
peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang
Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri dan menjadi
warga negara yang berdemokratis serta bertanggung jawab.
Dengan demikian
dapatlah diketahui bahwa tujuan pendidikan nasional sangat luas sekali, dan
meliputi berbagai aspek yang menuntut peran serta semua pihak secara aktif dan bertanggung
jawab dalam bidang pendidikan ini, karena tanpa ikut sertanya pihak lain yang
bertanggung jawab dalam dunia pendidikan ini maka tujuan pendidikan diatas
tidaklah tercapai dengan baik dan seperti yang diharapkan.
Pendidikan mempunyai peranan yang sangat penting
untuk perkembangan serta
kelangsungan kehidupan suatu bangsa yang bersangkutan. Seperti diketahui kunci ilmu pengetahuan
itu ialah baca tulis, sehingga kita disuruh untuk belajar dan belajar. Karena
dengan belajarlah kemajuan suatu bangsa dapat dicapai.
Mengingat pentingnya masalah belajar tersebut, maka
dalam pencapaian materi pembelajaran harus
disampaikan dengan metode dan pendekatan yang tepat. Dalam proses pendidikan Agama Kristen faktor model pembelajaran merupakan
faktor yang tidak boleh diabaikan karena turut menentukan sukses tidaknya
pencapaian tujuan pendidikan
Agama Kristen. Hubungan antara model pembelajaran dan tujuan pendidikan
dapat dikatakan merupakan hubungan sebab akibat. Artinya jika metode pendidikan
yang digunakan baik dan tepat, maka tujuan pendidikan besar kemungkinan akan
dapat dicapai.
Idealnya untuk
mencapai tujuan pendidikan dan pengajaran kepada peserta didik haruslah dengan cara
didaktis metodis. Artinya haruslah dengan cara yang tepat, bijaksana dan tidak
boleh kasar agar tujuan yang telah ditentukan dapat dicapai. Demikianlah dalam mendidik guru sebaiknya selalu memperhatikan
masalah metode ini. Salah satu sebab keberhasilan bahwa dalam mengemban misi pendidikan adalah sikap yang didaktis.
Seperti halnya permasalahan yang dihadapi siswa
kelas III
SD Negeri 01
Nabire; 73.5% dari 8 siswa mengalami kesulitan dalam
meningkatkan hasil belajar Pendidikan Agama Kristen. Hal ini dapat dilihat dari
hasil rata-rata ulangan siswa hanya 63 dan masih termasuk kategori rendah atau belum mencapai ketuntasan yang
diharapkan. Ketuntasan belajar individual yang harus dicapai
oleh siswa adalah minimal 70%
dan ketuntasan belajar klasikal minimal 80%. Penyebab
rendahnya nilai siswa tidak hanya siswa melainkan mungkin tingkat kemampuan
guru dalam menyampaikan materi bisa terjadi. Guru perlu menyadari bahwa
kecepatan siswa dalam berfikir itu bervariasi. Kemungkinan juga adanya alat
atau media pendukung pembelajaran.
Melihat kondisi pembelajaran Pendidikan Agama Kristen dan Budi Pekerti yang
demikian itu, penulis merasa perlu untuk melakukan perbaikan pada pembelajaran
yang dilakukan. Salah satu upaya yang dilakukan adalah dengan menerapkan model
pembelajaran yang
agak berbeda dari sebelumnya. Dalam kesempatan ini, penulis mencoba menerapkankan sebuah model pembelajaran yang
termasuk jenis pembelajaran kooperatif, yaitu Model Discovery
Learning. Dengan menerapkan model ini dalam pembelajaran Pendidikan Agama Kristen di Kelas III SD Negeri 01 Nabire
diharapkan
mampu meningkatkan hasil belajar siswa pada mata pelajaran tersebut.
Pemilihan kelas penelitian pada Kelas III didasari pada observasi
awal yang dilakukan penulis, dimana nilai prestasi siswa sudah berkisar antara
60-70 walaupun hanya dengan menggunakan metode ceramah dan tanya jawab, tetapi
ini bukanlah nilai yang memuaskan. Maka penulis dalam hal ini mencoba dengan
model pembelajaran Discovery Learning. Disamping
itu pada sekolah tersebut belum pernah ada penelitian dengan menggunakan model
pembelajaran Discovery khususnya
pada mata pelajaran PAK.
Inilah yang membuat peneliti
merasa tertarik untuk melakukan penelitian
dengan menggunakan model
pembelajaran Discovery tersebut dalam mata
pelajaran PAK di kelas III SD Negeri 01 Nabire.
Apakah
dengan menggunakan model pembelajaran Discovery Learning dapat meningkatkan hasil belajar siswa . Untuk menjawab itu perlu
pengujian dengan menerapkan secara langsung model pembelajaran Discovery Learning melalui proses
pembelajaran di kelas III SD Negeri 01 Nabire melalui penelitian Tindakan Kelas
yang akan dilakukan oleh guru Pendidikan Agama Kristen yang juga akan bertindak
sebagai peneliti.
Berdasarkan
uraian diatas, peneliti
tertarik untuk mengadakan penelitian dengan judul : “MENINGKATKAN
HASIL BELAJAR SISWA MELALUI MODEL PEMBELAJARAN DISCOVERY LEARNING PADA MATA PELAJARAN PENDIDIKAN AGAMA
KRISTEN DAN
BUDI PEKERTI DI KELAS III SD
NEGERI 01
NABIRE SEMESTER GANJIL TAHUN PELAJARAN 2020/2021”
B. Perumusan Masalah
Berdasarkan latar
belakang masalah di atas, maka penelitian dapat merumuskan
masalah penelitian ini adalah
sebagai berikut :
“Apakah dengan melalui model pembelajaran Discovery
Learning dapat meningkatkan
kualitas pembelajaran Pendidikan
Agama Kristen dan Budi pekerti melalui pembelajaran Discovery
Learning pada kelas III SD Negeri 01 Nabire dan untuk
mengetahui tingkah laku yang menyertai peningkatan pembelajaran Pendidikan Agama
Kristen melalui pembelajaran Discovery
Learning pada kelas III SD Negeri 01 Nabire.?”
C.
Tujuan Penelitian
Berdasarkan rumusan
masalah, maka tujuan yang ingin dicapai peneliti ini adalah:
“Untuk meningkatkan kualitas pembelajaran Pendidikan Agama Kristen dan Budi pekerti melalui
pembelajaran Discovery
Learning pada kelas III SD Negeri 01 Nabire dan untuk
mengetahui tingkah laku yang menyertai peningkatan pembelajaran Pendidikan Agama
Kristen melalui pembelajaran Discovery
Learning pada kelas III SD Negeri 01 Nabire.”
D. Manfaat Penelitian
Hasil dari penelitian ini diharapkan akan dapat
memberikan manfaat, yaitu :
1. Manfaat
Teoritis
Hasil penelitian ini diharapkan memberikan manfaat
dalam pengembangan ilmu pendidikan, khususnya teori belajar mengajar serta
konsep pembelajaran Pendidikan Agama Kristen dan Budi Pekerti di SD Negeri 01 Nabire.
2. Manfaat
Praktis
a. Bagi
guru, dengan secara bertahap guru mengetahui pola dan strategi pembelajaran
yang tepat dalam upaya memperbaiki pengajaran. Salah satunya adalah dengan
menggunakan model pembelajaran
Discovery Learning.
b.
Bagi siswa, dengan menggunakan model pembelajaran Discovery
Learning dapat meningkatkan pemahaman siswa, yang berarti meningkatkan hasil belajar siswa.
c. Bagi
sekolah, hasil penelitian ini akan memberikan kontribusi terhadap perbaikan
pembelajaran pendidikan agama Kristen
khususnya di kelas III SD
Negeri 01 Nabire.
d. Untuk
penelitian selanjutnya, hasil penelitian ini dapat dijadikan sebagai bahan
masukan untuk penelitian berikutnya.
II.
KAJIAN PUSTAKA
A. Pengertian Belajar
Belajar
merupakan kebutuhan yang harus dipenuhi oleh setiap manusia. Belajar adalah
kegiatan beproses dan merupakan unsur yang penting dalam penyelenggaraan
pendidikan. Sedangkan keberhasilan pencapaian tujuan pendidikan sangat
tergantung pada keberhasilan proses belajar siswa di sekolah dan di lingkungan
sekitarnya.[2]
Belajar memiliki beberapa definisi dan teori yang dikemukakan oleh beberapa
ahli pendidikan. Menurut Syah yang dikutif oleh Asep Jihad mengatakan bahwa
belajar merupakan tahapan perubahan perilaku siswa yang relatif positif dan
mantap sebagai hasil interaksi dengan lingkungan yang melibatkan proses
kognitif. Tahapan dalam belajar tergantung pada fase-fase belajar. Menurut
Witting ada tiga tahapan dalam belajar, antara lain:
1.
Tahapan Acquisition,
yaitu tahapan perolehan informasi
2.
Tahapan Storage, yaitu tahapan menyimpan
informasi; dan
3.
Tahapan Retrieval,
yaitu tahapan pendekatan kembali informasi.
Menurut Oemar Hamalik yang dikutif oleh Asep Jihad ada dua pengertian yang
umum tentang belajar yaitu[3]:
1.
Belajar adalah modifikasi atau memperteguh kelakuan
melalui pengalaman (Learning is difined as the modification or streng hening
of behavior through experiencing).
2.
Belajar adalah
suatu proses perubahan tingkah laku individu melalui interaksi dengan
lingkungan.
Karena itu seseorang dikatakan belajar, bila dalam diri orang itu terjadi
suatu proses kegiatan yang mengakibatkan suatu perubahan tingkah laku. Jadi
dalam teori ini siswa belajar akan mendapatkan hasil belajar yaitu berupa
perubahan kepribadian sebagai pola baru, misalnya pemahaman atau pengetahuan
yang didapat dari proses pembelajaran.
Belajar berlangsung sepanjang hayat, karena belajar merupakan kebutuhan setiap
manusia. Prinsip belajar sepanjang hayat yang dibuat oleh Komisi Delors dari United
Nations Educational Scientific and Cultural Organization (UNESCO) terbagi 4
pilar, yaitu : (a) learning to know, yang berarti juga learning to
learn; (b) learning to do; (c) learning to be; dan (d) learning
to live together.
1.
Learning to Know
Learning to
know atau learning to learn memiliki definisi bahwa belajar itu pada dasarnya
tidak berorientasi kepada produk atau hasil. Akan tetapi juga harus berorientasi
kepada proses belajar.
2.
Learning to Do
Learning to
do mengandung pengertian bahwa belajar bukan hanya sekedar mendengar dan
melihat dengan tujuan akumulasi pengetahuan, tetapi belajar untuk berbuat
dengan tujuan akhir penguasaan kompetensi yang sangat diperlukan dalam era
persaingan global.
3.
Learning to Be
Learning to
be berarti belajar itu membentuk manusia yang “menjadi dirinya sendiri”. Dengan
kata lain, belajar untuk mengaktualisasikan dirinya sendiri sebagai individu
dengan kepribadian yang memiliki tanggung jawab. Sebagai manusia dan juga
memiliki tanggung jawab menyadari akan segala kekurangan dan
kelemahannya.
4.
Learning to Live Together
Learning to live
together adalah belajar untuk kerjasama. Hal ini diperlukan sesuai dengan
tuntutan kebutuhan dalam masyarakat global, dimana secara individu dan kelompok
tidak mungkin bisa hidup sendiri atau mengasingkan diri bersama kelompoknya.
Dari segi
psikologi, menurut Whitetherington psikologi yang dikutip oleh Ngalim Purwanto,
mengemukakan :
“Belajar
adalah suatu perubahan tindakan di dalam, kepribadian yang menyatakan diri
sebagai pola baru dari pada reaksi yang berupa kecakapan sikap kebiasaan,
kepandaian atau suatu pengertian”.
Dalam proses
belajar terdapat beberapa hal yang penting yaitu pengalaman, proses berpikir,
dan perubahan tingkah laku. Pada proses belajar, siswa merupakan subyek
sedangkan guru diharapkan sebagai fasilitator dan pembimbing. Agar terjadi
proses belajar yang baik, dituntut adanya suatu Interaksi Multi Arah antara
siswa dan guru. Setiap individu berperan aktif
melibatkan diri dengan segala pemikiran dan kemauan untuk berinteraksi dengan
lingkungannya.
Berdasarkan pengertian-pengertian diatas dapat disimpulkan belajar adalah
suatu aktifitas mental yang berlangsung dalam interaksi aktif dengan lingkungan
yang menghasilkan perubahan-perubahan dalam pengetahuan, pemahaman,
keterampilan dan sikap. Setiap pembelajaran bermuara pada suatu hasil, sesuai
dengan tujuan pembelajaran. Hasil yang didapat dari sekolah harus dapat
digunakan dan diterapkan dalam kehidupan sehari-hari. Hasil belajar yang telah
diperoleh disimpan dalam ingatan untuk kemudian digali dari ingatan bila
dibutuhkan. Suatu pembelajaran dikatakan efektif bila proses pembelajaran
tersebut dapat mewujudkan sasaran atau hasil belajar tertentu. Beraneka ragam
tingkah laku yang diperoleh dalam belajar yaitu pengetahuan, sikap, dan
keterampilan.
Berbagai
ahli mengemukakan pendapatnya tentang belajar. Belajar adalah suatu proses yang
dilakukan individu untuk memperoleh suatu perubahan tingkah laku yang baru
secara keseluruhan sebagai hasil pengalaman individu itu sendiri dalam
berinteraksi dengan lingkungan (Slameto, 1998:6)[4]
Belajar
adalah segenap rangkaian kegiatan/aktifitas yang dilakukan secara sadar oleh
seseorang dan mengakibatkan perubahan dalam dirinya berupa penambahan
pengetahuan atau kemahiran yang sifaknya sedikit banyak permanen (The Liang
Gie, 2000 : 6).[5]
Menurut Nasution
(2000:29) bahwa: “Belajar adalah perubahan kelakuan berkat pengalaman dan
latihan. Belajar membawa perubahan individu yang belajar dan perubahan itu
tidak hanya mengenai jumlah pengetahuan melainkan juga berbentuk kecakapan,
kebiasaan atau pribadi seseorang”.[6]
Secara
sederhana didefinisikan bahwa “Belajar ialah aktifitas yang dilakukan individu
secara sadar untuk mendapatkan sejumlah kesan dari apa yang telah dipelajari
dan sebagai hasil dari intyeraksinya dengan lingkungan sekitar dan perubahan yang
terjadi relative permanen pada aspek psikologis” (Syaiful Bahri Djamarah,
2002:2).[7]
Menurut
Winkel (2001:36) bahwa: “ belajar adalah suatu aktifitas mental atau psikis
yang berlangsung, yang menghasilkan perubahan-perubahan dalam pengetahuan,
pemahaman, keterampilan dan nilai sikap. Perubahan itu bersifat relative
konstan dan membekas”.
Dari
beberapa pendapat tersebtut dapat diambil pengertian bahwa seseorang telah
belajar kalau terdapat perubahan tingkah laku melalui pengalaman atau latihan
dalam dirinya.Perubahan tingkah laku tersebut menyangkut perubahan yang
bersifat pengetahuan (kognitif), keterampilan (psikomotorik), maupun nilai dan
sikap (afektif). Perubahan tersebut terjadi akibat interaksi dengan
lingkungannya, tidak terjadi karena pertumbuhan fisik atau kedewasaan, tidak karena kelelahan, penyakit atau
perubahan karena obat-obatan. Selain itu perubahan tersebut relatif bersifat
lama atau permanen dan menetap.
Jadi dapat
disimpulkan bahwa belajar merupakan suatu proses perubahan tingkah laku pada
diri seseorang yang sedang belajar dan interaksi dengan lingkungannya baik
berupa pribadi, fakta, dan sebagainya dan perubahan tersebut bersifat konstan.
B.
Pengertian Pembelajaran
Pembelajaran adalah suatu upaya yang
dilakukan oleh seseorang guru atau pendidik untuk membelajarkan siswa yang
belajar. Pada pendidikan formal (sekolah), pembelajaran merupakan tugas yang
dibebankan kepada guru, karena guru merupakan tenaga profesional yang
dipersiapkan untuk itu (TIM Pengembang MKDP Kurikulum dan Pembelajaran, 2011:
128). Pembelajaran adalah proses interaksi antar siswa dengan lingkungannya.
Guru perlu membangun interaksi secara penuh dengan memberikan kesempatanseluas
luasnya kepada siswa untuk berinteraksi dengan lingkungannya.
1.
Tujuan Belajar
Tujuan belajar
menurut (Sardiman, 2011: 26) dalam usaha pencapaian tujuan belajar perlu
diciptakan adanya sistem lingkungan (kondisi) belajar yang lebih kondusif. Hal
ini akan berkaitan dengan mengajar[8].
Mengajar diartikan sebagai suatu usaha penciptaan sistem lingkungan yang
memungkinkan terjadinya proses belajar. Ditinjau secara umum, tujuan belajar
ada tiga jenis, yaitu :
a. Untuk
mendapat pengetahuan.
b. Penanaman
konsep dan keterampilan.
c. Pembentukan
sikap.
Tujuan pembelajaran dapat diklasifikasikan atas tujuan umum dan tujuan
khusus.Tujuan umum adalah pernyataan umum tentang hasil pembelajaran yang
diinginkan yang mengacu pada struktur orientasi, sedangkan tujuan khusus adalah
pernyataan khusus tentang hasil pembelajaran yang diinginkan yang mengacu pada
konstruk tertentu.
2.
Interaksi Belajar Mengajar
Interaksi belajar mengajar menurut (Sardiman, 2011: 14) proses belajar
mengajar akan senantiasa merupakan proses kegiatan interaksi antar dua unsur
manusiawi, yaitu siswa sebagai pihak yang belajar dan guru sebagai pihak yang
mengajar, dengan siswa sebagai subyek pokoknya. Dalam proses interaksi antar
siswa dengan guru, dibutuhkan komponen-komponen pendukung seperti yang telah disebut pada ciri-ciri interaksi edukatif. Komponen-komponen tersebut berlangsungnya proses
belajar mengajar tidak dapat dipisah-pisahkan. Perlu ditegaskan bahwa proses
belajar mengajar yang dikatakan sebagai proses teknis ini, juga tidak dapat
dilepaskan dari segi normatifnya, segi normatif inilahy mendasari proses
belajar mengajar.
Menurut (Syah, 2013) faktor – faktor yang mempengaruhi belajar siswa dapat
dibedakan menjadi tiga macam, yaitu:
1.
Faktor Internal (faktor dari dalam siswa),
yakni keadaan atau kondisi jasmani dan rohani siswa
2.
Faktor Eksternal (faktor dari luar siswa),
yakni kondisi lingkungan disekitar siswa.
3.
Faktor Pendekatan Belajar (approach to learning), yakni jenis upaya
belajar siswa yang meliputi strategi dan metode yang digunakan siswa untuk
melakukan kegiatan pembelajaran materi – materi pelajaran.
C. Hasil Belajar Dari Pembelajaran
Pengertian hasil belajar menurut Chaplin, pengertian hasil belajar adalah: “Hasil
belajar merupakan suatu tingkatan khusus yang diperoleh sebagai hasil dari
kecakapan kepandaian, keahlian dan kemampuan di dalam karya akademik yang
dinilai oleh guru atau melalui tes prestasi” (1992: 159).
Nasution
(1972:45) berpendapat bahwa hasil belajar adalah kemampuan anak didik
berdasarkan hasil dari pengalaman atau pelajaran setelah mengikuti program
belajar secara periodik.[9]
Dengan selesainya proses belajar mengajar pada umumnya dilanjutkan dengan
adanya suatu evaluasi. Dimana evaluasi ini mengandung maksud untuk mengetahui
kemajuan belajar atau penguasaan siswa atau terhadap materi yang diberikan oleh
guru.
Dari hasil evaluasi ini akan
dapat diketahui hasil belajar siswa yang biasanya dinyatakan dalam bentuk nilai
atau angka. Dengan demikian hasil belajar merupakan suatu nilai yang
menunjukkan hasil belajar dari aktifitas yang berlangsung dalam interaksi aktif
sebagai perubahan dalam pengetahuan, pemahaman keterampilan dan nilai sikap
menurut kemampuan anak dalam perubahan baru. Dalam proses belajar mengajar anak
didik merupakan masalah utama karena anak didiklah yang diharapkan dapat
menyerap seluruh materi pelajaran yang diprogramkan didalam kurikulum.
Pengertian dan konsep hasil belajar yang
dikemukakan oleh ahli-ahli sedikit banyak dipengaruhi oleh aliran/teori yang
dianutnya. Skinner dengan teori kondisioningnya memaparkan bahwa hasil belajar
itu berupa respon baru (tingkah laku) yang baru. Dalam hal ini hasil belajar
siswa dapat berupa respon atau tingkah laku baru yang membedakannya dengan
sebelum siswa mengalami pembelajaran.
Menurut Abdurrahman yang dikutip oleh Asep Jihad, hasil belajar adalah
kemampuan yang diperoleh kegiatan belajar. Dalam pembelajaran guru menetapkan
tujuan belajar, siswa yang berhasil belajar adalah yang berhasil mencapai
tujuan-tujuan permbelajaran. Menurut Benjamin S. Bloom ada tiga ranah (domain)
hasil belajar yaitu kognitif, afektif dan psikomotorik. Dari ketiga
ranah tersebut dapat dipaparkan sebagai berikut :
1. Ranah Kognitif
Tujuan
kognitif adalah tujuan yang lebih banyak berkenaan dengan perilaku dalam aspek
berfikir atau intelektual. Ada enam tingkatan dalam domain kognitif, antara
lain :
1.
Pengetahuan atau ingatan yang mengacu pada
kemampuan mengenal atau mengingat materi yang sudah dipelajari;
2.
Pemahaman, mencakup kemampuan untuk menangkap
makna dari arti bahan (materi) yang dipelajari;
3.
Penerapan atau aplikasi, mencakup kemampuan
untuk menarapkan suatu kaidah atau metode bekerja pada suatu kasus atau problem
yang konkrit;
4.
Analisis, mencakup kemampuan untuk merinci
suatu kesatuan kedalam bagian-bagian, sehingga struktur keseluruhannya atau
organisasinya dapat dipahami dengan baik;
5.
Sintesis, mencakup kemampuan untuk membentuk
suatu kesatuan atau pola baru. Bagian-bagian
dihubungkan satu sama lain sehingga tercipta suatu bentuk baru;
6.
Evaluasi, mengacu pada kemampuan memberikan pertumbuhan/penilaian terhadap gejala
atau peristiwa berdasarkan norma.
2. Ranah
Afektif
Berkenaan dengan watak perilaku seperti keterampilan dan kemampuan
bertindak setelah seseorang menerima pengalaman tertentu. Ranah afektif juga
berkenaan dengan sikap dan nilai, yaitu tujuan-tujuan yang banyak berkenaan
aspek perasaan, nilai, sikap dan minat perilaku siswa. Tipe hasil belajar
afektif tampak pada siswa dalam berbagai tingkah laku seperti perhatian siswa,
disiplin dan motivasi dalam pembelajaran.
Ada beberapa tingkatan bidang afektif antara lain :
1.
Penerimaan, mencakup kepekaan akan adanya suatu perangsang dan kesediaan
memperhatikan rangsangan itu, seperti buku pelajaran atau penjelasan yang
diberikan oleh guru;
2.
Pemberian respon yakni reaksi seseorang terhadap
stimulasi yang datang pada siswa;
3.
Penghargaan terhadap nilai, mencakup
kemampuan untuk memberikan penilaian terhadap sesuatu dan membawa diri sesuai
dengan penilaian itu;
4.
Pengorganisasian, mencakup untuk suatu sistem nilai
sebagai pedoman dan pegangan dalam kehidupan;
5.
Karakteristik nilai, yakni keterpaduan dari semua
sistem nilai yang telah di nilai seseorang. Pada tingkat ini siswa bukan saja
telah mencapai perilaku-perilaku tingkah laku rendah, tetapi telah
mengintegrasikan nilai-nilai tersebut kedalam kehidupan yang konsisten.
3.
Ranah Psikomotor
Tujuan atau ranah psikomotor tampak dalam bentuk keterampilan dan kemampuan
bertindak seseorang individu, ada tingkatannya antara lain :
1.
Gerak refleks
atau meniru (imitation) yaitu mencakup kemampuan untuk meniru perilaku
yang dilihatnya;
2.
Keterampilan pada gerakan-gerakan dasar;
3.
Kemampuan gerakan di bidang fisik;
4.
Kemampuan gerakan-gerakan skill;
5.
Kemampuan yang
berkenaan dengan non de cursve.
Setelah guru
selesai menyampaikan materi tertentu tindak mengajar diakhiri dengan proses
evaluasi hasil belajar. Evaluasi hasil belajar dapat dilakukan menggunakan alat
evaluasi yang berupa tes hasil belajar. Tes hasil belajar adalah tes yang
digunakan untuk menilai hasil-hasil pelajaran yang telah diberikan oleh guru
kepada siswa dalam waktu tertentu. Untuk mengukur hasil belajar dapat digunakan
tes hasil belajar yang menurut jenisnya dapat dibagi dua yaitu tes hasil
belajar bentuk uraian dan bentuk obyektif.
Jadi dapat disimpulkan hakikat hasil belajar Pendidikan Agama Kristen adalah suatu kegiatan yang
dilakukan siswa dalam mempelajari Pendidikan Agama Kristen untuk menghasilkan perubahan
tingkah laku yang berhubungan dengan aspek kognitif, afektif dan psikomotorik.
D.
Model
Pembelajaran Discovery Learning
Model Pembelajaran Discovery Learning merupakan salah
satu model pembelajaran yang bisa diterapkan disekolah dengan tujuan untuk
meningkatkan kualitas pendidikan. Model pembelajaran Discovery Learning mengarahkan siswa untuk memahami konsep, arti,
dan hubungan, melalui proses intuitif untuk akhirnya sampai kepada suatu
kesimpulan (Budiningsih, 2005: 43). Penemuan konsep terjadi bila data dari guru
tidak disajikan dalam bentuk akhir, tetapi dalam bentuk proses (never ending process). Dengan penggunaan
model pembelajaran discovery learning siswa didorong untuk mengidentifikasi apa
yang ingin diketahui dilanjutkan dengan mencari informasi sendiri kemudian
mengorganisasi atau membentuk (konstruksi) apa yang mereka ketahui dan mereka
pahami dalam suatu bentuk akhir.
Sebagaimana pendapat Brunner, bahwa “Discovery
Learning can be defined as the learning that takes place when the student is
not presented with subject matter”. Hal tersebut terjadi bila siswa
terlibat, terutama dalam penggunaan proses mentalnya untuk menemukan beberapa konsep
dan prinsip. Discovery dilakukan melalaui observasi, klasifikasi, pengukuran,
prediksi, penentuan dan inferi. Proses tersebut disebut cognitive process
sedangkan discovery itu sendiri adalah the
mental process of assimilating conceps and principles in the mind (Robert
B. Sund dalam Malik, 2001: 219). Dengan mengaplikasikan Discovery Learning secara berulang-ulang dapat meningkatkan
kemampuan penemuan diri individu yang bersangkutan. Penggunaan Discovery Learning ingin merubah kondisi
belajar yang pasif menjadi aktif dan kreatif. Mengubah pembelajaran yang
teacher oriented ke student oriented. Merubah modus Ekspository siswa hanya menerima informasi secara keseluruhan dari
guru ke modus Discovery siswa
menemukan informasi sendiri.
Langkah Pembelajaran discovery
Learning, sebagai berikut :
1)
Menciptakan
stimulus/ rangsangan (Stimulation) Kegiatan penciptaan stimulus dilakukan pada
saat siswa melakukan aktivitas mengamati fakta atau fenomena dengan cara
melihat, mendengar, membaca, atau menyimak. Fakta yang disediakan dimulai dari
yang sederhana hingga fakta atau femomena yang menimbulkan kontroversi. Pada
tahapan ini siswa dihadapkan pada sesuatu yang menimbulkan perhatian, kemudian
dilanjutkan untuk tidak memberi generalisasi agar timbul keinginan untuk
menyelidiki sendiri. Di samping itu guru dapat memulai kegiatan Proses Belajar
Mengajar (PBM) dengan mengajukan pertanyaan, anjuran membaca buku, dan
aktivitas belajar lain yang mengarah pada persiapan pemecahan masalah.
Stimulasi pada tahap ini berfungsi untuk menyediakan kondisi interaksi belajar
yang dapat mengembangkan dan membantu siswa dalam mengeksplorasi bahan. Dalam hal ini Brunner memberikan contoh
stimulasi dengan menggunakan teknik bertanya, yaitu dengan mengajukan
pertanyaan-pertanyaan yang dapat menghadapkan siswa pada kondisi internal yang
mendorong eksplorasi. Dengan demikian seorang guru harus menguasai
teknik-teknik dalam memberi stimulus agar tujuan mengaktifkan siswa untuk
mengeksplorasi dapat tercapai.
2)
Menyiapkan
pernyataan masalah (Problem Statement) Setelah dilakukan stimulasi, langkah
selanjutnya adalah guru memberi kesempatan kepada siswa untuk mengidentifikasi
sebanyak mungkin agendaagenda masalah yang relevan dengan bahan pelajaran,
kemudian salah satunya dipilih dan dirumuskan dalam bentuk hipotesis (jawaban
sementara atau opini atas pertanyaan masalah) (Syah, 2004: 244). Permasalahan yang dipilih itu selanjutnya
dirumuskan dalam bentuk pertanyaan atau hipotesis, yakni pernyataan (statement)
sebagai jawaban sementara atas pertanyaan yang diajukan. Memberikan kesempatan
kepada siswa untuk mengidentifikasi dan menganalisis permasalahan yang dihadapi
merupakan teknik yang berguna agar mereka terbiasa menemukan suatu masalah.
3)
Mengumpulkan
data (Data Collecting) Ketika eksplorasi berlangsung guru juga memberi
kesempatan kepada siswa untuk mengumpulkan informasi sebanyak-banyaknya yang
relevan dalam rangka membuktikan benar atau tidaknya hipotesis (Syah,
2004:244). Dengan demikian siswa diberi kesempatan untuk mengumpulkan (collection)
berbagai informasi yang relevan, melalui berbagai cara, misalnya, membaca
literatur, mengamati objek, wawancara dengan narasumber, melakukan uji coba
sendiri dan sebagainya. Manfaat dari tahap ini adalah siswa belajar secara
aktif untuk menemukan sesuatu yang berhubungan dengan permasalahan yang
dihadapi, sehingga secara alamiah siswa menghubungkan masalah dengan
pengetahuan yang telah dimiliki.
4)
Mengolah
data (Data Processing) Menurut Syah (2004: 244) pengolahan data merupakan
kegiatan mengolah data dan informasi yang telah diperoleh siswa baik melalui
wawancara, observasi, dan sebagainya, lalu ditafsirkan. Semua informai hasil
bacaan, wawancara, observasi, dan sebagainya, semuanya diolah, diacak,
diklasifikasikan, ditabulasi, bahkan bila perlu dihitung dengan cara tertentu
serta ditafsirkan pada tingkat kepercayaan tertentu (Djamarah, 2002: 22)[10].
Pengolahan data disebut juga dengan pengkodean (coding) atau kategorisasi yang
berfungsi sebagai pembentukan konsep dan generalisasi. Dari generalisasi
tersebut siswa akan mendapatkan pengetahuan baru tentang alternatif jawaban/
penyelesaian yang perlu mendapat pembuktian secara logis.
5)
Memverifikasi
data (Verrification) Pada tahap ini siswa melakukan pemeriksaan secara cermat
untuk membuktikan benar atau tidaknya hipotesis yang ditetapkan sebelumnya dengan
temuan alternatif, dihubungkan dengan hasil data processing (Syah, 2004: 244).
Dalam hal verification, menurut Brunner, proses belajar akan berjalan dengan
baik dan kreatif jika guru memberikan kesempatan kepada siswa untuk menemukan
suatu konsep, teori, aturan atau pemahaman melalui contoh-contoh yang dijumpai
dalam kehidupannya. Berdasarkan hasil pengolahan data dan tafsiran terhadap
data, kemudian dikaitkan dengan hipotesis, maka akan terjawab apakah hopotesis tersebut terbukti atau tidak.
6)
Menarik
kesimpulan (Generalization) Tahap generalisasi/ menarik kesimpulan adalah
proses menarik sebuah kesimpulan yang dapat dijadikan prinsip umum dan berlaku
untuk semua kejadian atau masalah yang sama, dengan memperhatikan hasil
verifikasi (Syah, 2004: 244). Berdasarkan hasil verifikasi maka dirumuskan prinsip-prinsip yang mendasari
generalisasi. Setelah menarik kesimpulan siswa harus memperhatikan proses
generalisasi yang menekankan pentingnya penguasaan materi pelajaran atas makna
dan kaidah atau prinsip-prinsip yang luas yang mendasari pengalaman seseorang,
serta pentingnya proses pengaturan dan generalisasi dari pengalaman-pengalaman
itu.
Atau dengan kata lain, langkah-langkah
pembelajaran discovery adalah sebagai berikut:
1. identifikasi
kebutuhan siswa;
2. seleksi
pendahuluan terhadap prinsip-prinsip, pengertian konsep dan generalisasi
pengetahuan;
3. seleksi
bahan, problema/ tugas-tugas;
4. membantu
dan memperjelas tugas/ problema yang dihadapi siswa serta peranan masing-masing
siswa;
5. mempersiapkan
kelas dan alat-alat yang diperlukan;
6. mengecek
pemahaman siswa terhadap masalah yang akan dipecahkan;
7. memberi
kesempatan pada siswa untuk melakukan penemuan;
8. membantu
siswa dengan informasi/ data jika diperlukan oleh siswa;
9. memimpin
analisis sendiri (self analysis) dengan pertanyaan yang mengarahkan dan
mengidentifikasi masalah;
10. merangsang
terjadinya interaksi antara siswa dengan siswa;
11. membantu
siswa merumuskan prinsip dan generalisasi hasil penemuannya.
Salah
satu metode belajar yang akhir-akhir ini banyak digunakan di sekolah-sekolah
yang sudah maju adalah metode discovery. Hal ini disebabkan karena metode
ini:
(1)
merupakan suatu cara untuk mengembangkan cara belajar siswa aktif;
(2)
dengan menemukan dan menyelidiki sendiri konsep yang dipelajari, maka hasil
yang diperoleh akan tahan lama dalam ingatan dan tidak mudah dilupakan siswa;
(3)
pengertian yang ditemukan sendiri merupakan pengertian yang betul-betul
dikuasai dan mudah digunakan atau ditransfer dalam situasi lain;
(4)
dengan menggunakan strategi discovery anak belajar menguasai salah
satu metode ilmiah yang akan dapat dikembangkan sendiri;
(5)
siswa belajar berpikir analisis dan mencoba memecahkan problema yang dihadapi
sendiri, kebiasaan ini akan ditransfer dalam kehidupan nyata.
Beberapa
keuntungan belajar discovery yaitu:
(1)
pengetahuan bertahan lama dan mudah diingat;
(2)
hasil belajar discovery mempunyai efek transfer yang lebih baik dari
pada hasil lainnya;
(3) secara menyeluruh
belajar discovery meningkatkan penalaran siswa dan kemampuan untuk
berpikir bebas. Secara khusus belajar penemuan melatih
keterampilan-keterampilan kognitif siswa untuk menemukan dan memecahkan masalah
tanpa pertolongan orang lain.
Beberapa
keunggulan metode penemuan juga diungkapkan oleh Suherman, dkk (2001: 179)
sebagai berikut:
1.
siswa aktif dalam kegiatan belajar,
sebab ia berpikir dan menggunakan kemampuan untuk menemukan hasil akhir;
2.
siswa memahami benar bahan pelajaran,
sebab mengalami sendiri proses menemukannya. Sesuatu yang diperoleh dengan cara
ini lebih lama diingat;
3.
menemukan sendiri menimbulkan rasa puas.
Kepuasan batin ini mendorong ingin melakukan penemuan lagi sehingga minat
belajarnya meningkat;
4. siswa
yang memperoleh pengetahuan dengan metode penemuan akan lebih mampu mentransfer
pengetahuannya ke berbagai konteks; metode
ini melatih siswa untuk lebih banyak belajar sendiri.
Selain
memiliki beberapa keuntungan, metode discovery (penemuan) juga
memiliki beberapa kelemahan, diantaranya membutuhkan waktu belajar yang lebih
lama dibandingkan dengan belajar menerima. Untuk mengurangi kelemahan tersebut
maka diperlukan bantuan guru. Bantuan guru dapat dimulai dengan mengajukan
beberapa pertanyaan dan dengan memberikan informasi secara singkat. Pertanyaan
dan informasi tersebut dapat dimuat dalam lembar kerja peserta didik (LKPD) yang telah dipersiapkan oleh guru
sebelum pembelajaran dimulai.
Penggunaan
model pembelajaran discovery learning menjadi salah satu solusi dalam
meningkatkan keaktifan, minat, serta kesadaran anak dalam belajar. Penyajian
materi tidak secara utuh dapat merangsang anak untuk mencari tahu dan
mengkonstruk pemahaman anak terhadap suatu konsep beradasarkan pengalaman
belajar. Penggunaan model pembelajaran discovery learning membuat anak lebih
aktif selama pembelajaran, anak lebih senang dan dapat berinteraksi dengan
kelompoknya untuk bersama-sama memahami suatu fenomena.
Bruner
menunjukkan bahwa setiap individu memiliki kemauan untuk belajar dan ini harus
digunakan dalam kegiatan-kegiatan yang seharusnya membangkitkan keingintahuan
dan mengarahkan anak untuk mempelajari dan menemukan pengetahuan. Belajar
terjadi dengan penemuan, yang memprioritaskan refleksi, berpikir,
bereksperimen, dan mengeksplorasi (Bruner dalam Balim, 2009).
Dalam
pembelajaran discovery learning, guru berperan memunculkan permasalahan-permasalahan
yang harus dipecahkan dan memandu anak dalam memecahkan permasalahan tersebut
(Syarifudin & Lestari, 2018).
Manfaat Model Discovery Learning, sebagai berikut :
1)
Membantu
siswa memperbaiki dan meningkatkan keterampilan kognisi. Usaha penemuan
merupakan kunci dalam proses ini dimana keberhasilan tergantung pada bagaimana
cara belajarnya.
2)
Pengetahuan yang diperoleh bersifat individual
dan optimal karena menguatkan pengertian, ingatan, dan transfer pengetahuan.
3)
Menumbuhkan
rasa senang pada siswa, karena berhasil melakukan penyelidikan.
4)
Memungkinkan
siswa berkembang dengan cepat sesuai kemampuannya.
5)
Menyebabkan siswa mengarahkan kegiatan belajar
dengan melibatkan akal dan motivasinya.
6)
Membantu
siswa memperkuat konsep dirinya, karena memperoleh kepercayaan diri melalui
kerjasama dengan siswa lain.
7)
Membantu
siswa menghilangkan keraguan karena mengarah pada kebenaran final yang dialami
dalam keterlibatannya.
8)
Mendorong
siswa berpikir secara intuitif, inisiatif, dalam merumuskan hipotesis.
9)
Dapat
mengembangkan bakat, minat, motivasi, dan keingintahuan.
10) Memungkinkan siswa
memanfaatkan berbagai sumber belajar.
11) Pengetahuan
itu bertahan lama atau lebih mudah diingat, hasil belajar mempunyai efek
transfer yang lebih baik, dan meningkatkan penalaran siswa dan kemampuan untuk
berpikir (Purnandita, Efendi, & Siswanto, 2018).
Sintak model pembelajaran Discovery Learning dalam pembelajaran Pendidikan Agama Kristen
Kelas III SD Negeri 01 Nabire materi Aku Bersyukur Akan Turunnya Hujan
(Kehadiran Allah Dalam Cuaca Hujan) dapat dilihat dalam langkah-langkah berikut
ini:
|
Kegiatan Inti
|
|
||||||||||||||
|
|
|
E. Hubungan
Hasil Belajar Siswa dan Model
Pembelajaran Discovery Learning
Menurut Chaplin, pengertian hasil belajar adalah: “Hasil
belajar merupakan suatu tingkatan khusus yang diperoleh sebagai hasil dari
kecakapan kepandaian, keahlian dan kemampuan di dalam karya akademik yang
dinilai oleh guru atau melalui tes prestasi” (1992: 159). Hasil belajar meliputi aspek kognitif,
afektif dan psikomotorik. Jadi Hasil belajar siswa dalam mata pelajaran Pendidikan Agama Kristen adalah suatu kegiatan yang dilakukan siswa dalam mempelajari Pendidikan Agama Kristen untuk menghasilkan perubahan
tingkah laku yang berhubungan dengan aspek kognitif, afektif dan psikomotorik.
Berdasarkan data hasil ulangan harian yang telah
diberikan kepada siswa Kelas III SD Negeri 01 Nabire pada semester genap tahun
pelajaran 2019/2020, hasil belajar siswa untuk mata pelajaran Pendidikan Agama
Kristen masih termasuk kategori rendah atau belum mencapai ketuntasan yang
diharapkan. Ketuntasan belajar individual yang harus dicapai
oleh siswa adalah minimal 70%
dan ketuntasan belajar klasikal minimal 80%. Melihat
kondisi pembelajaran Pendidikan
Agama Kristen yang demikian itu, penulis merasa perlu untuk
melakukan perbaikan pada pembelajaran yang dilakukan. Salah satu upaya yang
dilakukan adalah dengan menerapkan model pembelajaran yang agak berbeda dari
sebelumnya. Sebab itu perlu
mencoba menerapkankan
sebuah model pembelajaran yang termasuk jenis pembelajaran kooperatif, yaitu Model Discovery Learning.
Model Pembelajaran Discovery
Learning merupakan salah satu model pembelajaran yang bisa diterapkan
disekolah dengan tujuan untuk meningkatkan kualitas pendidikan atau hasil
belajar siswa khususnya pada mata pelajaran pendidikan Agama Kristen. Penggunaan
Discovery Learning ingin merubah
kondisi belajar yang pasif menjadi aktif dan kreatif. Dengan
menerapkan model ini dalam pembelajaran Pendidikan Agama Kristen di Kelas III SD Negeri 01 Nabire diharapkan
mampu meningkatkan hasil belajar siswa pada mata pelajaran Pendidikan Agama Kristen dan Budi Pekerti.
HIPOTESIS TINDAKAN
Berdasarkan pada permasalahan dalam
Penelitian Tindakan Kelas yang berjudul “Meningkatkan
Hasil Belajar siswa melalui
Model Pembelajaran Discovery Learning
Pada Mata Pelajaran Pendidikan Agama Kristen Di Kelas III SD Negeri 01 Nabire Semester
Ganjil Tahun Pelajaran 2020/2021”, yang dilakukan oleh peneliti,
dapat dirumuskan hipotesis tindakan sebagai berikut:
"Jika Proses Belajar Mengajar Siswa Kelas III SD Negeri 01 Nabire menggunakan model pembelajaran Discovery Learning dalam menyampaikan materi
pembelajaran, maka dimungkinkan hasil belajar siswa kelas III tersebut akan lebih baik dan meningkat
dibandingkan dengan proses belajar mengajar yang dilakukan sebelumnya".
III.
METODOLOGI
PENELITIAN
A.
Setting
penelitian
1.
Tempat
penelitian
Penelitian
tindakan kelas ini dilakukan di
SD Negeri 01 Nabire, untuk mata pelajaran Pendidikan Agama Kristen dan Budi
Pekerti.
2.
Waktu
penelitian
Penelitian dilaksanakan pada tahun ajaran baru 2020/2021, selama satu
semester yaitu bulan Juli-Desember 2020. Penentuan waktu penelitian mengacu
pada kalender akademik
3.
Metode
Penelitian
Metode
penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode deskriptif melalui penelitian tindakan kelas dilaksanakan dalam 2 siklus untuk melihat
peningkatan hasil belajar siswa dalam mengikuti proses belajar mengajar mata
pelajaran Pendidikan Agama Kristen dengan
penerapan model Discovery Learning.
4. Jenis
Pendekatan
Jenis
penelitian ini adalah bersifat lapangan (Field Research) yang dilakukan dengan
menggunakan pendekatan kualitatif, yakni untuk mengetahui hasil belajar siswa
serta respon/tanggapan siswa terhadap pembelajaran dengan model Discovery
Learning di Kelas III SD
Negeri 01 Nabire.
B. Subjek dan Objek Penelitian
Subjek penelitian ini
adalah siswa Kelas III SD Negeri 01 Nabire tahun pelajaran
2019/2020 dengan jumlah siswa 8 siswa yang terdiri dari 6 siswa perempuan dan 2 siswa laki-laki, Kelas III dijadikan subjek penelitian karena di kelas tersebut belum pernah dicoba
pembelajaran dengan model Discovery Learning.
Objek penelitian ini
adalah pembelajaran Pendidikan Agama
Kristen dan Budi Pekerti dengan model Discovery
learning.
C. Data
dan Sumber Data
1.
Data
Data yang digali dalam penelitian ini ada dua macam
yaitu data pokok dan data penunjang.
a. Data
Pokok
1)
Data tentang hasil belajar siswa dengan
menggunakan model pembelajaran Discovery Learning di Kelas III SD Negeri 01 Nabire.
2)
Data tentang respon siswa terhadap
pembelajaran dengan menggunakan model pembelajaran Discovery learning.
b. Data
Penunjang
Data penunjang merupakan data pelengkap dalam
penelitian ini yang meliputi gambaran
umum lokasi penelitian dan dokumen-dokumen informasi lainnya.
2.
Sumber Data
Sumber data dalam penelitian ini terdiri dari :
a.
Sumber data pokok, yaitu siswa Kelas III SD Negeri 01 Nabire.
b.
Sumber data penunjang, yaitu orang yang
dapat memberikan informasi untuk mengumpulkan data (guru dan staf tata usaha).
D. Tehnik
Pengumpulan Data
Untuk mengumpulkan data dalam penelitian ini penulis
menggunakan beberapa teknik, yang terdiri dari data pokok dan data penunjang.
1.
Teknik pengumpulan data pokok
Tes
Teknik
ini digunakan untuk memperoleh data mengenai hasil belajar yang dicapai siswa
setelah mengikuti pembelajaran, tes yang digunakan berupa tes hasil belajar
yang diukur menggunakan instrument tes
hasil belajar.
Tabel
1 Kisi-kisi Soal Evaluasi Siklus 1
|
Indikator Soal |
No. Soal |
|
Peserta didik dapat
menjelaskan pengertian bersyukur, cuaca dan kehadiran Allah dalam cuaca hujan |
1 |
|
Peserta didik menganalisis Kehadiran Allah dalam cuaca hujan dalam Alkitab berdasarkan Mazmur
74:17; Zakaria 10:1 dan Yehezkiel 34:26 |
2 |
|
Peserta didik dapat menganalisis kehadiran Allah dalam cuaca hujan dan upaya orang
percaya mewujudkan ungkapan syukur atas
kehadiran Allah dalam cuaca hujan |
3 |
Tabel
2 Kisi-kisi Soal Evaluasi Siklus 2
|
Indikator Soal |
No. Soal |
|
Peserta didik dapat
menjelaskan nilai-nilai Kehadiran Allah dalam cuaca hujan |
1 |
|
Peserta didik menganalisis makna ungkapan
syukur atas kehadiran Allah dalam cuaca hujan berdasarkan Mazmur 74:17; Zakaria 10:1 dan Yehezkiel
34:26 |
2 |
|
Peserta didik dapat
menganalisis contoh-contoh ungkapan syukur atas Kehadiran Allah dalam cuaca hujan |
3 |
2.
Teknik pengumpulan data penunjang
Salah satu teknik pengumpulan data penunjang adalah
teknik dokumentasi dan wawancara. Teknik ini digunakan sebagai pelengkap dalam
data-data tentang lokasi penelitian,
keadaan sekolah, sarana dan prasarana lainnya.
E.
Validitas
Data
Hasil belajar (nilai tes) yang
divalidasi instrumen tes menentukan validasi teoritik maupun validasi empirik
(analisis kualitatif dan kuantitatif). Proses pembelajaran (tes ) yang divalidasi datanya melalui
trianggulasi, baik sumber maupun metoda.
F. Tehnik
Analisis Data
Teknik analisis data dalam penelitian ini
menggunakan teknik analisa dengan persentase. Rumus persentase yang digunakan
seperti dikutip Sudijono adalah :
P =
Keterangan :
P = Persentase
F = Frekuensi yang sedang dicari
persentasenya
N = Banyaknya individu
Setelah dicari persentasenya
kemudian dilakukan pengelompokkan hasil belajar siswa dengan menggunakan
kualifikasi sebagai berikut :
Tabel 3 Daftar kualifikasi hasil belajar siswa
|
No |
Kualifikasi |
Skor |
|
1 2 3 4 5 |
Baik Sekali Baik Cukup Kurang Sangat Kurang |
86 – 100 71 – 85 56 – 70 41 – 55 ≤ 40 |
Tahapan Mengukur Hasil
Belajar Siswa
Setelah selesai
menghitung skor perkembangan individu langkah selanjutnya adalah pemberian
penghargaan (reward) kepada kelompok. Penghargaan kelompok didasarkan ukuran
besarnya skor peningkatan yang diperoleh setiap kelompok. Untuk menentukan skor
yang dicapai kelompok digunakan rumus yang diadaptasi dari Slavin.
Nk =
Keterangan :
Nk = Nilai
perkembangan kelompok
G. Indikator
Kinerja
Penelitian
Tindakan Kelas ini dinyatakan berhasil jika :
1. Siswa secara individu memenuhi KKM ≥ 70
2.
Secara
Klasikal siswa yang memenuhi KKM sebesar ≥80%
3.
Secara
Klasikal sebanyak ≥80% siswa dalam Kategori Aktif atau sangat aktif.
H. Prosedur
Penelitian
Pelaksanaan PTK ini melalui 2 tahapan siklus. Kedua
tahapan tersebut terdiri dari perencanaan tindakan, pelaksanaan, observasi dan
refleksi
1.
Siklus I
Siklus dengan 2 kali pertemuan dengan waktu tatap
muka 4 x 35 menit. Penelitian ini melalui empat tahap PTK,
yaitu perencanaan, pelaksanaan tindakan, observasi dan refleksi. Secara rinci
kegiatan yang dilakukan pada setiap tahapan tersebut adalah sebagai berikut :
Pelaksanaan penelitian
tindakan kelas pada siklus I adalah sebagai berikut:
a. Perencanaan
1) Merancang
skenario
pembelajaran yang dijabarkan dalam Satuan Pelajaran (SP). Satuan Pelajaran
dijabarkan menjadi unit-unit kecil dikenal dengan Rencana Pelaksanaan
Pembelajaran (RPP).
2) Menyiapkan
instrument pembelajaran sesuai dengan rencana pembelajaran yang dibuat yaitu LKPD atau daftar pertanyaan.
3) Menyusun
instrument penelitian berupa tes (tes hasil belajar).
b. Pelaksanaan
Tindakan
Dalam pelaksanaan tindakan dilakukan kegiatan
sebagai berikut :
1) Memberikan
pretest siklus I kepada siswa sebelum dilaksanakan pembelajaran.
2) Melaksanakan
kegiatan belajar mengajar, dalam kegiatan ini dilakukan dengan mengkaji konsep
sesuai tuntunan kurikulum melalui penggunaan model Pembelajaran Discovery
Learning.
3) Melaksanakan
pos test siklus I.
c. Observasi
Tindakan
Pada tahap ini dilakukan observasi terhadap
efektivitas penggunaan sumber belajar, hambatan dan kesulitan guru dan siswa
pada saat pembelajaran. Seluruh hasil dicatat atau dibukukan untuk dijadikan
bahan pertimbangan untuk melakukan refleksi.
d. Tahap
Refleksi
Tahap refleksi merupakan kegiatan untuk mengemukakan
kembali apa saja yang sudah dilakukan, yang digunakan sebagai pertimbangan
untuk memasuki siklus ke II.
2.
Siklus ke II
Siklus
II dengan 2 kali pertemuan dengan waktu tatap muka 4 x 35 menit.
a. Perencanaan
1) Merancang
skenario
pembelajaran yang dijabarkan dalam Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP).
2) Menyiapkan
LKPD atau daftar pertanyaan
dengan mengacu pada model pembelajaran Discovery learning.
3) Menyusun
instrument penelitian berupa tes (tes hasil belajar).
b. Pelaksanaan
Tindakan
Dalam pelaksanaan tindakan dilakukan kegiatan
sebagai berikut :
1) Melaksanakan
pretest siklus ke II.
2) Kegiatan
belajar mengajar, dilakukan dengan mengkaji konsep sesuai tuntutan
kurikulum menggunakan model pembelajaran Discovery
learning.
3) Melaksanakan
postest siklus ke II
c. Observasi
Tindakan
Pada tahap ini
dilakukan observasi terhadap penguasaan materi pelajaran diperoleh dari hasil
tes akhir pelajaran dengan menerapkan model pembelajaran
Discovery learning. Seluruh hasil dicatat atau dibukukan
untuk dijadikan bahan pertimbangan untuk melakukan refleksi.
d. Tahap
Refleksi
Peneliti melaksanakan
refleksi terhadap pelaksanaan siklus I dan menganalisis untuk membuat
kesimpulan atas pelaksanaan pembelajaran dengan menerapkan metode Discovery Learning dalam peningkatan
hasil belajar siswa dalam mata pelajaran PAK.
I. Personalia
Peneliti
Nama peneliti : Kusniawati
NIP : -
Tanggal Lahir : Cirebon, 13 Oktober
1980
Alamat :
Jl. Ujung Pandang RT. 020 RW. 002 Karang Mulia Nabire
Tempat
Mengajar : SD Negeri 01
Nabire
Alamat Sekolah : Jl. Pattimura Nabire
Telpon/ HP : 081232268877
Peran/bidang
dalam sekolah : Guru Pendidikan Agama
Kristen (PAK) dan Budi Pekerti
Peran saya
dalam penelitian ini adalah sebagai peneliti
J. Rencana Biaya Penelitian
Penelitian
ini tidak membutuhkan anggaran (biaya) yang berarti, karena tidak diperlukan
fasilitas-fasilitas (ATK, Peraga, dll). Kalaupun ada hanya digunakan untuk
pembuatan laporan penelitian yang tidak seberapa.
K. Jadwal
Penelitian
|
No |
Jadwal Kegiatan |
Bulan |
||||||
|
Juli |
Agt |
Sept |
Okt |
Nov |
Des |
|
||
|
1 |
Penyusunan
Proposal |
X |
|
|
|
|
|
|
|
2 |
Pembuatan
Instrumen Penelitian |
|
X |
|
|
|
|
|
|
3 |
Izin penelitian |
|
X |
|
|
|
|
|
|
4 |
Menyiapkan
kelas |
|
|
X |
|
|
|
|
|
5 |
Melakukan
siklus I |
|
|
X |
|
|
|
|
|
6 |
Melakukan
Siklus II |
|
|
|
X |
|
|
|
|
7 |
Hasil
Penelitian |
|
|
|
X |
|
|
|
|
8 |
Seminar
hasil penelitian |
|
|
|
|
X |
|
|
|
9 |
Perbaikan
Laporan |
|
|
|
|
X |
|
|
|
10 |
Laporan
penelitian |
|
|
|
|
|
X |
|
L. DAFTAR PUSTAKA
Arief, Armai. Pengantar Ilmu dan
Metodologi Pendidikan Islam. Jakarta. Ciputat Pers, 2002.
Chulsum, Umi, Windi Novia. Kamus
Besar B. Indonesia. Surabaya. Kashiko, 2006.
Dimyati dan Mujiono, Belajar dan
Pembelajaran. Jakarta. Rieneka Cipta, 1999.
Direktur Jendral Pendidikan Islam
Departemen Agama RI, Undang-undang & Peraturan Pemerintah Tentang
Pendidikan. Jakarta, 2006.
Djamarah, Syaipul Bahri, Guru
dan Anak Didik dalam Interaksi Edukatif. (Jakarta: Rineka Cipta. 2005)
Ibrahim, dkk. Pembelajaran
Kooperatif. Surabaya. University Press, 2000.
Ilyas, Asnelly. Mendambakan anak
soleh, prinsip-prinsip pendidikan anak dalam islam. Bandung. Albayan, 1998.
Muhammad
Fahmi. Modul Kurikulum Dan Strategi
Pembelajaran Pendidikan Frofesi Guru (PPG) Dalam Jabatan. Kementrian Agama
RI Direktorat Jendral Pendidikan Islam Direktorat Pendidikan Agama Islam.2019.
Musoffa. Penggunaan Model
Pembelajaran Kooperatif Tipe TAI untuk Meningkatkan Hasil Belajar Persamaan
Linier pada Siswa Kelas VII ASMP Negeri 3 Belaewang Tahun Pelajaran 2007/2008.
STIKIP PGRI Banjarmasin.
Nasution.2000.
Dikdaktik Asas-asas Mengajar.
Bandung: Sinar Baru Algensindo.
Nur, Mohammad. Disadur dari A
Practical Guide to Cooperatif Learning oleh Robert E. Slavin dan diterbitkan
oleh Allyn And Bacon 1994 menjadi Pembelajaran Kooperatif. Surabaya. Pusat
Siance dan Matematika UNESA, 2005.
Oemar
Hamalik. 2001. Psikologi Belajar Mengajar.
Bandung: Sinar Baru Algensindo.
Sadili, Hasan dan John, M. Ecoln. Kamus
Umum Lengkap B. Inggris. Jakarta. Gramedia, cetakan XXV, 2000.
Sardiman,
A.M. 2007. Interaksi dan Motivasi belajar
Mengajar. Jakarta: Raja Grafindo Persada.
Slameto. Belajar dan
Faktor-Faktor yang Mempengaruhinya. Jakarta. Rineka Cipta, 2003.
Slameto. 1998. Didaktik
Metodik. Jakarta : Pustaka Jaya.
Sudijono, Anas. Pengantar Statistik
Pendidikan. Jakarta. Raja Grafindo Persada, 2003
Syaiful
Bahri Djamarah. 2002. Psikologi Belajar.
Jakarta: Rineka Cipta.
The Liang Gie. 2000. Kamus
Psikologi. Jakarta : PN. Balai Pustaka
Uhbiyati, Nur, Ilmu Pendidikan
Islam. Bandung. CV Pustaka Setia, 1997.
Verbianto, dkk. Kamus
Pendidikan. Jakarta. Gramedia Widia Sarana, 1994.
Winkel,WS.
2001. Psikologi Pengajaran. Jakarta:
Gramedia.
Wojowasito, S, Kamus Umum
Lengkap B. Inggris. Bandung. Pangeran, 1996.
[1] Arief,
Armai. Pengantar Ilmu dan Metodologi Pendidikan Islam. Jakarta. Ciputat
Pers, 2002. Hal. 48
[2] Chulsum,
Umi, Windi Novia. Kamus Besar B. Indonesia. Surabaya. Kashiko, 2006.
[3]
Oemar Hamalik. 2001. Psikologi
Belajar Mengajar. Bandung: Sinar Baru Algensindo.
[4] Slameto.
Belajar dan Faktor-Faktor yang Mempengaruhinya. Jakarta. Rineka Cipta, 2003.
[5] The Liang Gie. 2000. Kamus Psikologi. Jakarta :
PN. Balai Pustaka
[6]
Nasution.2000. Dikdaktik
Asas-asas Mengajar. Bandung: Sinar Baru Algensindo.
[7] Djamarah,
Syaipul Bahri, Guru dan Anak Didik dalam Interaksi Edukatif. (Jakarta:
Rineka Cipta. 2005)
[8]
Sardiman, A.M. 2007. Interaksi
dan Motivasi belajar Mengajar. Jakarta: Raja Grafindo Persada.
[9]
Nasution.2000. Dikdaktik
Asas-asas Mengajar. Bandung: Sinar Baru Algensindo.
[10] Djamarah,
Syaipul Bahri, Guru dan Anak Didik dalam Interaksi Edukatif. (Jakarta:
Rineka Cipta. 2005)
Komentar
Posting Komentar